-
Biogenic gas within a deltaic deposition environment in the Kapuas rivermouth of West Kalimantan occurred in fine to very fine quartz sand reservoir of shallow boreholes of having the depth of 1-12 m below ground surface. This reservoir is covered by peaty layers of semi-impermeable property. During high tide, gas bubbling took place in the water column above the ground of these semi-impermeable layers. Utilizations of biogenic gas had been done succesfully. These works were carried out through drilling, piping, gas storage and installations for gas stove and gas electricity generator of 500 watt capacity at chief village house as an example before widely used to the local community.
Keywords: Biogenic Gas; Deltaic Deposition Environment; Kapuas River; west Kalimantan, Utilization.
Gas biogenik dalam suatu lingkungan pengendapan delta di muara Sungai Kapuas Kalimantan Barat terdapat dalam reservoar pasir kuarsa berukuran halus hingga sangat halus pada kedalaman bor dangkal 1-12 m di bawah permukaan tanah. Reservoar ini ditutupi oleh lapisan gambut semiimpermeabel. Selama pasang naik, gelembung gas teramati dalam kolom air di atas permukaan lapisan semi-impermeabel ini. Pemanfaatan gas biogenik telah dilaksanakan dengan sukses. Pemanfaatan ini dilakukan melalui pemboran, pipanisasi, penampungan gas dan instalasi untuk kompor gas dan generator listrik berbahan bakar gas kapasitas 500 watt di rumah Kepala Desa sebagai contoh sebelum dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat setempat.
Kata kunci: Gas Biogenik, Lingkungan Pengendapan Delta, Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Pemanfaatan
-
Andaman Sea in the Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) is influenced by Indo-Australia monsoon winds. Marine sediment cores in this area, BS36 (06°55’50.8”N; 96°07’28.51”E; ; Water depth 1147.1 meters) were acquired by Geomarin III research vessel andanalysed its morphology for nannoplankton occurences. Results from qualitative identification on marine sediment core in Andaman Sea obtained 11 genus of nannoplankton marine algae in this area. Dominated genus discovered in this site is Gephyrocapsa, Emiliania, and Helicosphaera. Although this research is qualitative and preliminary study phase; however, this reference of modern nannoplankton taxonomy and features using Scanning Electron Microscope (SEM) would enhance marine algae biodiversity along Andaman Sea of Indonesian watersKeywords: Nannoplankton, morphology, sediment core, taxonomy, Andaman Sea Kawasan Laut Andaman terletak di wilayah kolam panas Indo-Pasifik sangat dipengaruhi oleh angin musim Indo-Australia. Conto inti sedimen laut di wilayah BS 36 (06°55’50.8” Utara; 96°7’28.51” Timur; kedalaman laut 1147,1 meter) diambil menggunakan wahana kapal riset Geomarin III dan dianalisis morfologi nanoplankton yang ditemukan di wilayah ini. Hasil dari pemerian kualitatif dari conto sedimen inti di Laut Andaman menghasilkan 11 genus nanoplankton sebagai alga laut yang dapat ditemukan pada lokasi ini. Genus yang sangat menonjol di satu lokasi titik pengambilan conto sedimen inti yaitu Gephyrocapsa, Emiliania, dan Helicosphaera. Meskipun kajian ini masih bersifat kualitatif dan tahap studi awal; namun acuan tentang taksonomi nanoplankton modern dan kenampakan dari Scanning Electron Microscope (SEM) akan memperkaya biodivesitas alga laut di sepanjang Laut Andaman dari perairan Indonesia.Kata Kunci: Nanoplankton, morfologi, conto sedimen inti, taxonomi, Laut Andaman
-
This research was conducted to investigate a suitable location for the OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) pilot plant in North Bali. The investigation was done by calculating the theoretical potential of electric power output using the method of Uehara and Ikegami (1990) for closed cycle OTEC. OTEC power plants require a temperature difference between surface and bottom water layers at least 20°C. Temperature data were obtained from the HYCOM temperature model for a period of 9 years (2008 - 2017) at 4 points which were verified with field data taken in 2017 using KR Geomarin III. The results of field measurements show that the sea surface temperature (SST) in the study area ranges from 28 to 31°C while at depth of 800 m 5.75°C. ∆T values range from 22 to 25°C. Verification of modelling temperature and measurement temperature shows that the modeling results resemble the temperature of North Bali Waters. Analyses results for the four points showed that B-11, located in the Tedjakula area, has the largest electrical power output (71,109 MW). Thus, point B-11 is the best location for development of OTEC pilot plant in North Bali Waters.Keywords: sea water temperature, net power, OTEC closed cycle, North BaliPenelitian ini dilakukan untuk menentukan lokasi yang layak untuk pilot plant OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) di perairan Bali Utara. Penentuan dilakukan dengan menghitungpotensi teoritis output daya listrik menggunakan metoda Uehara dan Ikegami (1990) untuk OTEC siklus tertutup. Pembangkit listrik OTEC membutuhkan perbedaan suhu antara lapisan permukaan dan lapisan dalam sebesar 20°C atau lebih. Data suhu didapatkan dari model suhu HYCOM untuk jangka waktu 9 tahun (2008 – 2017) pada 4 titik yang diverifikasi dengan data lapangan yang diambil pada tahun 2017 dengan menggunakan KR Geomarin III. Hasil pengukuran lapangan menunjukaan bahwa suhu permukaan laut (SPL) daerah penelitian berkisar 28-31°C dan suhu air pada kedalaman 800 m adalah 5,75°C. Nilai ∆T berkisar 22-25°C. Verifikasi suhu hasil pemodelan dengan suhu hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu hasil pemodelan dapat mewakili suhu perairan Bali Utara. Hasil analisis yang dilakukan pada 4 titik menunjukkan bahwa titik B-11 yang terletak di daerah Tedjakula memberikan output daya listrik terbesar (71,109 MW). Titik B-11 merupakan lokasi terbaik untuk pengembangan pilot plant OTEC di perairan Bali Utara.Kata kunci: suhu air laut, daya listrik, OTEC siklus tertutup, Bali Utara
-
The study area is located in north-eastern part of Tomini Bay, approximately 80 km south of Manado city, North Sulawesi. This area is closed to submarine tailing disposal system in Buyat Bay. Five marine sediment samples and four water samples from seawater and dig wells have been used for heavy metals (Hg, As, CN) analyses by using Atomic Absorption Spectrometry (AAS). This study is a part of research conducted by Marine Geological Institute of Indonesia on morphological changes of seabed in the Totok Bay. The result shows that concentration of mercury (Hg) in water samples taken from Ratatotok estuary is higher than standards stipulated Government Regulation (Peraturan Pemerintah/PP) No. 82/2001. Meanwhile, concentration of arsenic (As) is almost reaching its standard threshold, and conversely cyanide (CN) concentration is low. This value of mercury (Hg) concentration taken from Ratatotok estuary is much higher than water samples from of Buyat Bay estuary. Significant concentration of mercury (Hg) analysed from those particular sampling sites indicated high mercury contamination. Therefore, further examination on ground water of dig wells is necessary, especially for mercury analysis (Hg). Furthermore, comparing the formerly obtained data of mercury concentration in the sediment, this particular study concludes that the sediments in the Totok Bay had contaminated by mercury from gold-processing of illegal mining.
Keywords: pollution, heavy metal, marine sediment, seawater, Totok Bay
Daerah penelitian terletak di bagian timur laut Teluk Tomini, sekitar 80 km selatan kota Manado, Sulawesi Utara. Lokasi ini berdekatan dengan tempat pembuangan limbah tambang bawah laut di Teluk Buyat. Lima contoh sedimen laut, lima buah contoh air dari laut dan sumur telah digunakan untuk analisa logam berat (Hg, As, dan CN) menggunakan metode Atomic Absorption Spectrometry AAS. Studi ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan oleh Marine Geological Institute of Indonesia tentang perubahan morfologi dasar laut di Teluk Totok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan merkuri dalam contoh air yang diambil dari sekitar muara sungai Ratatotok lebih tinggi dari standar Peraturan Pemerintah/PP No. 82/2001. Sementara itu, konsentrasi arsen (As) hampir mencapai ambang batas standar dan konsentrasi sianida (CN) jauh lebih rendah dari standar ambang batas. Nilai kandungan merkuri di estuari Ratatotok lebih tinggi dibandingkan dengan contoh air yang terukur dari muara sungai di Teluk Buyat. Kandungan merkuri yang tinggi ini menunjukkan adanya indikasi pencemaran logam berat, dan oleh karena itu air di sumur-sumur penduduk perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, khususnya untuk analisa merkuri. Selain itu, berdasarkan perbandingan kandungan merkuri dalam sedimen pada penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Teluk Totok telah mengalami kontaminasi merkuri dari penambangan emas ilegal.
Kata kunci: polusi, logam berat, sedimen laut, air laut, Teluk Totok
-
Sea floor sediment surrounding Lemukutan Island, West Kalimantan is distributed on rather steep sea bottom morphology. The steep bottom seems a continuation of rugged morphology of the island, especially at the northeast and southeast parts. This paper discusses the relation between sediment grain sizes and the steepness of sea bottom morphology. Grain size analyses of sediment shows various sediment types such as slightly gravelly muddy sand, gravel mostly composed of coral and lithic, and gravelly sand. Results show that steepness of sea bottom slope control deposited sediment types, coarse fraction sediments tend to settle on the area of high slope angle as at the northeastern and southeastern of the island. On the other hand, high energy marine environment, such as at the sea in front of north headland of Lemukutan Island, tends to accumulate coarse sediments. High percentages of organism shells in marine sediments obviously are deposited at those two domains.
Keywords: sea bottom morphology, sediment, Lemukutan Island, West Kalimantan.
Sedimen dasar laut sekitar Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat tersebar pada morfologi yang agak curam. Permukaan dasar laut yang curam tampaknya merupakan kelanjutan morfologi kasar pulau tersebut, terutama pada bagian timur laut dan tenggara. Makalah ini membahas hubungan antara besar butir sedimen dan kecuraman morfologi dasar laut. Analisis besar butir sedimen memperlihatkan jenis sedimen yang bervariasi, seperti pasir lumpuran sedikit krikilan, kerikil umumnya terdiri koral dan fragmen batuan, dan pasir krikilan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kecuraman lereng dasar laut mengontrol tipe sedimen yang diendapkan, sedimen fraksi kasar cenderung mengendap pada daerah dengan sudut lereng tinggi seperti di bagian timur laut dan tenggara Pulau Lemukutan. Di samping itu, lingkungan laut enerji tinggi, seperti di bagian utara pulau, cenderung mengakumulasikan sedimen kasar. Prosentase tinggi dari cangkang organisma dalam sedimen laut tampak nyata diendapkan pada kedua lingkungan tersebut.
Kata kunci: morfologi dasar laut, sedimen, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat.
-
Microfauna (ostracoda and foraminifera) as component of sediments has been used to detect the dynamics of sea floor condition in NE Kalimantan, particularly off Nunukan and Sebatik Islands. In general, the microfaunal components tend to increase (both number of species and specimens) from near shore to the open sea. The microfauna occur rarely at locations surrounding the islands due to high content of plant remains from the land. The marine origin of microfaunas occurs very abundantly in the inner part of the study area between Tinabasan and Nunukan Islands. This finding is interested due to their occurrence as unusual forms: brownish shells, broken and articulated ostracod carapaces. Additional interested findings are: the incidence of abraded test of Elphidium, the occurrence of dominant species of both ostracoda and foraminifera at some stations; various morphological forms of foraminiferal genus, Asterorotalia that reaches about 1% and distributed in the open sea. The various unusual forms may relate to the dynamics of local environmental changes such as postdepositional accumulation in the sediment, biological activities, and drift currents from open sea to landward.
Keywords: Ostracoda, Foraminifera, North East Kalimantan, land-sea interaction
Mikrofauna (ostracoda dan foraminifera), sebagai komponen sedimen dapat digunakan untuk mendeteksi dinamika kondisi dasar laut di Kalimantan Timur, tepatnya di sekitar Pulau Nunukan dan Sebatik. Secara umum, komponen mikrofauna cenderung bertambah (baik dalam jumlah spesies maupun spesimen) dari perairan sekitar pantai ke arah laut lepas. Mikrofauna yang ditemukan sangat jarang di lokasi sekitar pulau-pulau disebabkan oleh keterdapatan sisa-sisa tanaman dari daratan. Mikrofauna asal lautan ditemukan sangat melimpah di bagian dalam daerah penelitian antara Pulau Tinabasan dan Nunukan. Temuan ini sangat menarik karena adanya bentukan abnormal: cangkang berwarna kecoklatan, rusak dan cangkang ostracoda berbentuk tangkupan. Temuan tambahan yang juga menarik adalah: keterdapatan cangkang Elphidum yang rusak, keterdapatan beberapa spesies ostracoda dan foraminifera secara dominan di titik lokasi tertentu, dan kenampakan morfologi yang bervariasi dari genus foraminifera, Asterorotalia, yang mencapai 1% dan tersebar di laut lepas. Berbagai bentukan abnormal tersebut kemungkinan berkaitan dengan dinamika kondisi lingkungan setempat seperti akumulasi setelah pengendapan dalam sedimen, aktivitas biologis dan alur arus dari laut terbuka kearah daratan.
Kata kunci: ostracoda, foraminifera, Kalimantan Timur, interaksi daratan-lautan
-
New bathymetric map of northwest Simeuleu Island area (3° 01’N-4°57’N and 93°16’E-94°08’E) has evidently illustrated fine morphological image of Outer Arc ridge and Aceh Fore Arc. The structural lineament pattern, inferred from the bathymetric map, could define in general elongated major NW-SE thrust fault complex, thrust fold, or bedding trace and N-S, NNE-SSW, WNW-ESE or ENE-WSW and E-W structural lineament trend. High intensity deformation processes related to high degree obliquity subducted plate was represented by rough and sigmoidal morphological shape, landward and steep to very steep dip angle of bedding plan. Rough morphology, V to U shape valley, dissected ridge and circular shape of landslide trace are common morphology features of active deformation zone. In the near future, high resolution marine seismic will be planned across this area to capture and confirm the subsurface structure configuration and fault movement.
Keyword: bathymetric map, Outer Arc ridge, thrust fault, thrust fold, bedding trace, sigmoidal morphological, V to U shape valley,and landslide.
Peta batimetri baru di sebelah barat laut Pulau Simelue (3° 01’LU - 4°57’LU and 93°16’BT-94°08’BT), memperlihatkan citra morfologi yang halus pada punggungan busur luar dan busur depan Aceh. Pola kelurusan struktur mengacu pada peta batimetri, dibagi dalam komplek sesar naik yang berarah umum baratlaut - tenggara, lipatan, atau jejak perlapisan dengan kecendrungan arah struktur utara-selatan, utara timur laut – selatan barat daya, barat - barat daya, timur tenggara atau timur laut - barat daya dan timur - barat. Proses deformasi intensitas tinggi berkaitan dengan derajat kemiringan penunjaman yang tinggi, diwakili oleh bentuk morfologi sigmoid dan kasar, ke arah darat dicirikan oleh kemiringan bidang lapisan terjal hingga sangat terjal. Bentuk morfologi kasar seperti bentuk lembah V hingga U, punggungan yang terpotong dan bentuk melingkar dari jejak longsoran merupakan gambaran morfologi umum dari zona deformasi aktif. Dalam waktu dekat, seismik laut resolusi tinggi akan direncanakan memotong daerah ini untuk menggambarkan dan mengkonfirmasi konfigurasi struktur bawah permukaan dan pergerakan sesar.
Kata kunci : peta batimetri, punggungan busur luar, sesar naik, lipatan, jejak bidang perlapisan, morfologi sigmoid, bentuk lembah V hingga U,dan longsoran.
-
South Makassar Strait is located between Kalimantan and Sulawesi Islands that is an important oceanographic pathway connecting between the Pacific and Indian oceans. This area is a part of sedimentary basin that has specific seabed morphology and sediment characteristics, including foraminifera as a component of sediments. The purpose of this study is to determine community structure of benthic foraminifera related to sediment characteristics. This study used 20 top core sediment samples from water depth between 200 and 1500 m. There are identified 38 species of benthic foraminifera and some of them are characterized the study area: Anomalinoides colligerus, Lenticulina suborbicularis, Planulina wuellerstorfi, , and Pseudonodosaria discrete. The diversity index is categorized as moderate values (1.0=H'= 3) and the average of evenness values is about 0.79. The dominance values are less than 0.5 indicate that there is no dominant species in the study area. In relation to sediment characteristics, it shows that the high abundance of benthic foraminifera occurs in sediment type of silty sand and sandy silt. Moderate abundance appears in sand following by low abundance in silt and sandy silt sediment types.
Keywords: benthic foraminifera, community structure, sediment types and Makassar Strait
Makassar bagian selatan terletak diantara Pulau Kalimantan dan Sulawesi yang merupakan jalur oseanografik yang penting menghubungkan Samudera Pasifik dan. Wilayah ini merupakan bagian dari cekungan sedimen yang mempunyai morfologi dasar laut dan karakteristik sedimen tertentu termasuk foraminifera sebagai komponen sedimen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentik dalam kaitannya dengan tipe sedimen dasar laut. Penelitian ini menggunakan 20 sampel sedimen bagian atas dari pemercontoh inti pada kedalaman antara 200 dan 1500 m. Ada 38 spesies foraminifera bentik dan beberapa diantaranya mencirikan daerah penelitian: Anomalinoides colligerus, Lenticulina suborbicularis, Planulina wuellerstorfi, dan Pseudonodosaria discrete. Indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori sedang (1,0=H’=3) dan nilai rata-rata keseragaman sekitar 0,79. Nilai dominasi lebih kecil dari 0,5 itu menandakan tidak ada spesies yang dominan pada lokasi penelitian. Terkait dengan karakteristik sedimen menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera bentik tinggi terdapat pada jenis sedimen pasir lanauan dan lanau pasiran. Kelimpahan sedang ditemukan pada jenis sedimen pasir diikuti kelimpahan rendah yang dijumpai pada sedimen lanau dan lanau pasiran. Kata kunci: foraminifera bentik, struktur komunitas, jenis sedimen, Selat Makassar.
-
This paper presents the characteristics of sediment from core BS-36 (6°55.85’ S and 96°7.48’ E, 1147.1 m water depth) that was acquired in the Mergui Basin, Andaman Sea. The analyses involved megascopic description, core scanning by multi-sensor core logger, and carbonate content measurement. The purpose of this study is to determine the physical and chemical characteristics of sediment to infer the depositional environment. The results show that this core can be divided into 5 lithologic units that represent various environmental conditions. The sedimentation of the bottom part, Units V and IV were inferred to be deposited in suboxic to anoxic bottom condition combined with high productivity and low precipitation. Unit III was deposited during high precipitation and oxic condition due to ocean ventilation. In the upper part, Units II and I occurred during higher precipitation, higher carbonate production and suboxic to anoxic condition.Keywords: sediment characteristics, Mergui Basin, Andaman Sea, suboxic, anoxic, oxic, carbonate content Makalah ini menyajikan karakteristik sedimen contoh inti BS-36 (6°55,85’ LS dan 96°7,48’ BT, kedalaman 1147,1 m) yang diambil di Cekungan Mergui, Laut Andaman. Metode analisis meliputi pemerian megaskopis contoh inti, pemindaian contoh inti dengan menggunakan multi-sensor core logger, dan pengukuran kandungan karbonat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimiawi sedimen untuk menafsirkan kondisi lingkungan pengendapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh inti ini dapat dibagi menjadi 5 unit litologi yang mewakili kondisi lingkungan yang berbeda. Pada bagian bawah sedimen, Unit V dan IV ditafsirkan sebagai hasil endapan pada kondisi suboksik hingga anoksik pada saat produktivitas tinggi dan curah hujan rendah. Unit III diendapkan pada saat curah hujan tinggi dan kondisi oksik yang diperkirakan berkaitan dengan ventilasi samudera. Pada bagian atas, Unit II dan I diendapkan pada saat curah hujan cukup tinggi dengan produksi karbonat yang cukup besar dan kondisi dasar laut suboksik hingga anoksik. Kata kunci: karakteristik sedimen, Cekungan Mergui, Laut Andaman, suboksik, anoksik, oksik, kandungan karbonat
-
The application of Trend Surface Analysis (TSA) method an geological and geophysical research in map sheets 1813-1814, Balikpapan Waters and its surrounding, shows the significant value of residual anomaly. The magnetic disseverance of regional and total anomaly value obtained the negative anomaly between -50 nT and -350 nT and positive anomaly between +50 nT and +400 nT. The contour of total and regional anomaly shows the magnetic properties of rocks which characterizes the geological arrangements of the research areas. Residual anomaly yielded from the 2nd order value of regional anomaly might be correlated with the formation of basin structures in the central and northern parts of research area, which is interpreted as a part of Kutai Basin.
Keywords : TSA method, magnetic anomaly, geology and geophisics, Balikpapan Waters.
Penerapan metode TSA dalam penelitian geologi dan geofisika di Lembar Peta 1813-1814, Perairan Balikpapan dan sekitarnya menunjukkan nilai anomali sisa yang cukup signifikan. Hasil pemisahan nilai anomali magnet regional dan anomaly total diperoleh nilai anomali yaitu antara -50 nT dan –350 nT dan anomali positif antara +50 nT dan +400 nT. Kontur anomali total dan anomali regional memperlihatkan sifat kemagnitan batuan yang mencirikan tatanan geologi daerah penelitian. Anomali sisa dihasilkan dari nilai anomali regional orde ke 2, kemungkinan berkaitan dengan pembentukan struktur cekungan di bagian tengah dan utara daerah penelitian yang ditafsirkan sebagai bagian dari Cekungan Kutai.
Kata kunci : metode TSA, anomali magnet, geologi dan geofisika, Perairan Balikpapan.