-
A study of geochemical characteristic of major elelemnt of granitoid in Western Indonesia Region was carried out at Natuna, Bangka, Singkep and Sibolga. The SiO2 contents of the granites are 71.16 to 73.02 wt%, 71.77 to 75.56wt% and 71.16 to 73.02wt% at Natuna, Bangka, and Singkep respectively, which are classified as acid magma. While in Sibolga the SiO2 content from 60.27 to 71.44wt%, which is classified as intermediate to acid magma. Based on Harker Diagram, the granites from Natuna, Bangka and Singkep as a co-genetic. In other hand the Sibolga Granite show as a scatter pattern. Granites of Natuna, Bangka and Singkep have the alkaline-total (Na2O + K2O) between 6.03 to 8.51 wt% which are classified as granite and alkali granite regime. K2O content ranges from 3.49 to 5.34 wt% and can be classified as calc-alkaline type. The content of alkaline-total of Sibolga granite between 8.12 to 11.81 wt% and classified as a regime of syenite and granite. The range of K2O is about 5.36 to 6.94wt%, and assumed derived from high-K magma to ultra-potassic types. Granites of Natuna, Bangka and Singkep derived from the plutonic rock types and calc-alkaline magma, while Sibolga granite magma derived from K-high to ultra-potassic as a granite of islands arc. Based on the chemical composition of granite in Western Indonesian Region can be divided into two groups, namely Sibolga granite group is representing the Sumatera Island influenced by tectonic arc system of Sumatera Island. Granites of Bangka and Singkep are representing a granite belt in Western Indonesian Region waters which is influenced by tectonic of back arc.Keywords: magma, geochemical characteristic, major element and Western Indonesian Region Kajian karakteristik geokimia dari unsur utama granitoid di Kawasan Barat Indonesia telah dilakukan di daerah Natuna, Bangka, Singkep dan Sibolga. Kandungan SiO2 granit Natuna antara 71,16 - 73,02%, Bangka antara 71,77 - 75,56%, Singkep antara 72,68 - 76,81% termasuk dalam magma asam. Granit Sibolga memiliki kandungan SiO2 antara 60,27 - 71,44% termasuk dalam magma menengah - asam. Berdasarkan Diagram Harker, granit Natuna, Bangka dan Singkep mempunyai asal kejadian yang sama (ko-genetik), sedangkan granit Sibolga membentuk pola pencar. Granit Natuna, Bangka dan Singkep mengandung total alkalin (K2O+Na2O) antara 6,03 - 8,51% termasuk dalam jenis rejim granit dan alkali granit. Berdasarkan kandungan K2O antara 3,49 - 5,34 %berat, bersifat kalk-alkali. Granit Sibolga mengandung total alkali antara 8,12 - 11,81% termasuk dalam rejim syenit dan granit, dan berdasarkan kandungan K2O antara 5,36 - 6,94% berasal dari jenis magma K-tinggi sampai ultra-potassik. Granit Natuna, Bangka dan Singkep berasal dari jenis batuan beku dalam dan magma kalk-alkalin yang berhubungan dengan penunjaman, sedangkan granit Sibolga berasal dari jenis magma K-tinggi - ultra-potassik sebagai granit busur kepulauan. Berdasarkan komposisi unsur kimia utama, granit di Kawasan Barat Indonesia dapat dibagi dalam dua, yaitu granit Sibolga yang mewakili P. Sumatera, dipengaruhi oleh sistem tektonik busur P. Sumatera. Granit Bangka dan Singkep dapat mewakili suatu jalur granit di perairan Kawasan Barat Indonesia yang dipengaruhi oleh tektonik busur belakang. Kata kunci: jenis magma, karakteristik geokimia, unsur utama, dan Kawasan Barat Indonesia
-
The East Java Basin is developed from an oceanic basin in front of Late Cretaceous Java Trench subduction zone to presently back-arc basin behind the Java-Lombok volcanic arc to the south. Many studies conclude hydrocarbon discovery in deep carbonate Ngimbang Formation. However, as a result of the active tectonic history of the region, there are fractures from Ngimbang Formation upward to the Oligo-Miocene Kujung Formation. It developes enhanced permeability medium for a good hydrocarbon migration. This paper presents shallow gas detection zone in the Mundu Formation by applying the spectral decomposition method with continous wavelet transform. Spectral decomposition can be effectively used to identify hydrocarbon reservoirs by analyzing seismic data in the frequency domain. Spectral decomposition with frequency 20 Hz shows the potential zone at time 779 - 832 ms which is suitable with depth 2237.5 - 2355.6 feet in well TRG-1. This method is supported with quantitative calculation of petrophysical analysis that determines 5 pay flag zones range from 2208.5 feet until 2347.5 feet.Keywords : East Java Basin, spectral decomposition, continuous wavelet transform, petrophysical analysisCekungan Jawa Timur terbentuk dari cekungan samudera di tepi zona subduksi pulau Jawa pada masa Cretaseous/Kapur Akhir hingga cekungan busur belakang sistem vulkanik Jawa-Lombok di selatan. Banyak penelitian menyimpulkan penemuan hidrokarbon pada lapisan karbonat Formasi Ngimbang yang dalam. Namun, sebagai akibat dari sejarah tektonik aktif dari wilayah tersebut, terdapat rekahan dari Formasi Ngimbang sampai ke atas hingga Formasi Kujung pada masa Oligo-Miosen. Kejadian tersebut menyebabkan timbulnya peningkatan permeabilitas medium yang baik untuk migrasi hidrokarbon. Makalah ini menyajikan deteksi zona gas dangkal pada Formasi Mundu dengan menerapkan metode dekomposisi spektral dengan transformasi wavelet kontinyu. Dekomposisi spektral dapat secara efektif digunakan untuk mengidentifikasi reservoir hidrokarbon dengan menganalisa data seismik dalam domain frekuensi. Dekomposisi spektral dengan frekuensi 20 Hz menunjukkan zona potensial pada kedalaman domain waktu 779 - 832 ms yang sesuai dengan 2237.5 - 2355.6 kaki pada sumur TRG-1. Metode ini didukung dengan perhitungan kuantitatif analisa petrofisika yang menentukan 5 zona gas mulai dari 2208.5 kaki hingga 2.347.5 kaki.Kata kunci : Cekungan Jawa Timur, dekomposisi spektral, transformasi wavelet kontinyu, analisa petrofisika
-
Nannoplankton is widely used for determining age of sediments following the other microorganism foraminifera since the late 1960s; and it was started being used for marine geography study in the year of 1984. This topic interests to be done in Indonesia as one of the tropic region. The research covered a study about environment using nannoplankton and it is compared with the same study using foraminifera. Methods of the study include: (1) collecting secondary data and samples; (2) collecting field data record; (3) laboratory analyses upon sediment samples to determine the content of nannoplankton and foraminifera (micropaleontology analyses), the texture and composition of minerals (by means of grain size, petrology megascopic and microscopic analyses) (4) intergrating all of the analyses result. Madura waters can be divided into four zones, among all : (I) inner shelf (water depth less than 30 m) in Madura Strait, (II) inner shelf in open marine north of Madura, (III) outer shelf (water depth 30 to 80 m) in Madura Strait, and (IV) outer shelf in open marine north of Madura. Inner shelf in the Madura Strait (Zone I) is characterized by less than 1% sediment of nannoplankton (are made up of Gephyrocapsa oceanica); rare assemblages of benthic foraminifera only (Ammonia spp., arenaceous carbonate test taxa such as : Ammobaculites spp., Textularia agglutinans, Haplophragmoides spp., and milliolidae). Inner shelf open marine north of Madura (Zone II) yielded few nannoplankton assemblages, dominated by Gephyrocapsa oceanica with low number of Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. walichii and Pontosphaera spp; common foraminifera assemblages consist of rare planktic Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, G. conglobatus with one or two dominant benthic (Elphidium spp, Ammonia spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp.). Outer shelf of Madura Strait (Zone III) assigned by common nannoplankton assemblages, dominated by Gephyrocapsa oceanica and Emiliania huxleyi with few to common Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis and Umbilicosphaera spp.; common benthic foraminifera assemblages Elphidium spp, Ammonia spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., and Asterorotalia spp. with rare planktic Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, and G. conglobatus. In the outer shelf open marine north of Madura (Zone IV), it is recorded abundant of nannoplankton Gephyrocapsa oceanica, Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Discoaster spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis, Umbilicosphaera spp.; the presence of moderate divers and abundance of planktic foraminifera Globigerina calida, Pulleniatina obliquiloculata, Orbulina universa, Hastigerina aequilateralis with common abundance benthic Bolivina spp., Bulimina spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp., Lenticulina spp., Cassidulina spp., Siphonina spp., the presence of Uvigerina spp. are noted. The most significant physical environment parameter of each zone controlling appearance of marker species and abundancy of microorganism assemblages are bathymetry, salinity, temperature, pH and sediment due to fluvial supply.
Keywords : nannoplankton, foraminifera, environment, marker species, Madura Waters
Nannoplankton telah digunakan secara luas untuk penentuan umur sedimen di samping mikroorganisme lain, foraminifera, sejak tahun 1960-an; dan mulai digunakan untuk studi geografi laut pada tahun 1984. Kajian ini menarik untuk dilakukan di Indonesia yang termasuk daerah tropis. Studi ini mempelajari perubahan lingkungan berdasarkan analisis nannoplankton, dibandingkan dengan foraminifera yang umum dipakai untuk kegunaan sejenis. Metode penelitian mencakup : (1) pengumpulan data sekunder dan sampel; (2) pengambilan data lapangan; (3) pekerjaan laboratorium meliputi analisis mikropaleontologi dan petrologi ; serta (4) integrasi seluruh hasil analisis. Perairan Madura dapat dibedakan menjadi empat zona, yaitu: (I) Paparan dalam (kedalaman muka air laut kurang dari 30 m) di Selat Madura; (II) Paparan dalam pada laut terbuka di Perairan Utara Madura; (III) Paparan luar (kedalaman muka air laut 30 hingga 80 m) di Selat Madura; dan (IV) Paparan luar pada laut terbuka di Perairan Utara Madura. Paparan dalam di Selat Madura (Zona I) dicirikan oleh kumpulan nannoplankton kurang dari 1% total sedimen (Gephyrocapsa oceanica); foraminifera bentik jarang (Ammonia spp., cangkang gamping pasiran seperti Ammobaculites spp., Textularia agglutinans, Haplophragmoides spp., dan miliolida). Paparan dalam di laut terbuka (Zona II) dicirikan oleh nannoplankton kurang melimpah yang didominasi oleh Gephyrocapsa oceanica dengan beberapa Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. walichii, Pontosphaera spp; foraminifera cukup melimpah dengan plankton Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, G. conglobatus dalam jumlah jarang serta satu atau dua jenis bentik yang dominan (Elphidium spp, Ammonia spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp.). Paparan luar di Selat Madura (Zona III) dicirikan oleh nannoplankton dalam jumlah yang umum, didominasi oleh Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi dengan beberapa Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis, Umbilicosphaera spp.; foraminifera bentik jumlahnya umum seperti Elphidium spp, Ammonia spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., dan Asterorotalia spp. dengan foraminifera planktik seperti Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, dan G. conglobatus dalam jumlah jarang. Di paparan luar laut terbuka (Zona IV) teridentifikasi nannoplankton yang melimpah seperti Gephyrocapsa oceanica, Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Discoaster spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis, Umbilicosphaera spp.; dan beragam jenis foraminifera planktik seperti Globigerina calida, Pulleniatina obliquiloculata, Orbulina universa dan Hastigerina aequilateralis serta foraminifera bentik seperti Bolivina spp., Bulimina spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp., Lenticulina spp., Cassidulina spp., Siphonina spp. dan Uvigerina spp. dalam jumlah yang umum. Parameter lingkungan fisik yang paling berpengaruh dalam mengontrol kehadiran spesies penunjuk (indikator) dan kelimpahan kumpulan mikroorganisma adalah: batimetri, salinitas, temperatur, pH dan sedimen.
Katakunci : nannoplankton, foraminifera, lingkungan, spesies penunjuk, Perairan Madura
-
The objective of this study is to find out the pattern of paleo channel which was formed in Banten Bay and its surrounding. The aims are to find out the paleo-channel pattern at study area. The study methods are including vessel positioning, and shallow seismic reflection work. Vessel positioning method is to locate the exact position of seismic work   when recording the data from single channel of shallow seismic reflection. Seismic line orientations are determined by regional geological setting of the area. Trend of seismic lines are dominantly north – south. In order to get the seismic data which could give geological setting configuration, seismic lines should be perpendicular to the strikes of the sediments.Based on the calculation of velocity of seismic refraction in sea water 1,500 meters/second, while within sediment 1,600 meters/second, it could be concluded that the paleo chanels were more or less in 32 meters below sea floor depth.This layer was the system that occur during the process of an interglacial on the Sunda Shelf when it was still a part of land that connects the Java, Sumatra and Kalimantan Islands. Paleo-channel deposits are characterized by subparalel - chaotic reflection character with a thickness between 5-35 meters.Keywords: Paleo-channels, seismic records and Banten BayMaksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sungai purba yang terdapat di Teluk Banten dan sekitarnya, yang tujuannya adalah untuk mengetahui pola penyebaran alur sungai purba di daerah penelitian. Metode penelitian terdiri dari penentuan posisi kapal dan penelitian seismik pantul dangkal. Penentuan posisi kapal berguna untuk menemukan posisi yang tepat saat merekam data oleh perlatan seismik saluran tunggal dangkal. Lokasi lintasan seismik disesuaikan dengan kondisi geologi daerah penelitian. Arah lintasan seismik pada umumnya berarah utara – selatan. Untuk mendapatkan data seismik yang bisa memberikan konfigurasi kondisi geologi, lintasan seismik harus tegak lurus terhadap kedudukan lapisan batuan.Berdasarkan cepat rambat gelombang seismik di air laut 1.500 meter/detik, dan sedimen 1.600 meter/ detik, dapat disimpulkan bahwa alur purba kurang lebih berada pada kedalaman 32 meter di bawah dasar laut.Lapisan ini merupakan sistem pengendapan yang terjadi selama proses interglasial di Paparan Sunda yang pada saat itu masih merupakan bagian dari daratan yang menghubungkan P. Jawa, Sumatera dan P. Kalimantan. Endapan alur purba dicirikan dengan pola refleksi subparalel sampai tidak beraturan dengan ketebalan antara 5-35 meter.Kata kunci: Alur purba, rekaman seismik dan teluk Banten
-
his paper reviews submarine landslide potential in the eastern Indonesia by analyzing published and recently acquired bathymetric data and interpreting seismic reflection data. This review aims to study and invent hazards that might affect seafloor infrastructure construction such as optic cables, especially in the eastern Indonesia Region. The hazards were also recognized as source of tsunamis such as Palu Bay 2018 and Babi Island north of Flores Island in 1992. On the other hand, submarine landslide is a common process of basin fill sedimentation in the region. As blessed with many active volcanoes, it has 130 of total the world 400, Indonesia should aware of tsunami induced by volcanoes especially the ones closed to the sea. There are five active volcanoes frequently produce tsunami in historical times: Anak Krakatau, Sunda Strait; Makian, Maluku Province; Sangihe, Sulawesi; Teon and Nila, Banda Sea; and Iliwerung, Lembata Island, east Lesser Sunda Islands.Key words: submarine landslide, volcanic tsunami, seafloor infrastructure, eastern Indonesia Makalah ini menelaah potensi langsoran dasar laut di wilayah Timur Indonesia melalui analisis publikasi dan data batimetri yang baru diambil serta penafsiran data seismic refleksi. Tinjauan longsoran dasar laut dimaksudkan untuk mempelajari dan menginventarisasi bencana yang mungkin bisa mempengaruhi pembangunan infrastruktur dasar laut seperti halnya kabel optic, terutama di wilayah Timur Indonesia. Bencana tersebut telah dikenal sebagai sumber beberapa tsunami seperti Teluk Palu 2018 dan Pulau Babi utara Lombok di tahun 1992. Sebaliknya, longsoran dasar laut merupakan proses sedimentasi pengisian cekungan yang biasa terjadi di wilayah tersebut. Dikarunia akan gunungapi terbanyak di dunia, sebab memiliki 130 dari 400 dunia, Indonesia harus menyadari bahaya tsunami yang ditimbulkan oleh aktivitas gunungapi terutama yang dekat laut. Terdapat lima gunungapi aktif yang sering menghasilkan tsunami dalam sejarah: Anak Krakatau, Selat Sunda; Makian, Provinsi Maluku; Sangihe, Sulawesi; Teon dan Nila, Laut Banda; dan Iliwerung, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur.Kata kunci: longsoran dasar laut, tsunami gunungapi, infrastruktur dasar laut, Wilayah Indonesia Timur
-
Environmental study of the Tögi Ndrawa Cave by means of pollen analysis has been carried out. The interpretation is made based on the occurring pollen types as guide, the resulted pollen spectra, and curves exhibited in the pollen diagram. Combined evidences obtained from the palynological, geological and archaeologi cal studies provide the basis for the interpretation of plant ecology of shore and further the vegetational history of the marine area. In the meantime, plant ecology itself is concerned not only with plant communities but also the interaction among the plants involved, and their environmental factors.
Keyword: Environmental, Pollen Analysis, Tögi Ndrawa Cave
Studi lingkungan GuaTögi Ndrawa, Pulau Nias, telah dilakukan dengan menggunakan analisis polen. Interpretasi ini berdasarkan hadirnya jenis polen sebagai petunjuk dalam membentuk diagram polen. Hasil studi palinologi, geologi dan arkeologi telah menghasilkan interpretasi dasar mengenai ekologi tumbuhan pantai kemudian sejarah tumbuhan yang pernah tumbuh didaerah laut dangkal. Pada zaman ini, ekologi tumbuhan tidak hanya tergantung komunitas tumbuhan tetapi justru tergantung pada interaksi diantara komunitas tumbuhan dan faktor lingkungannya.
Kata Kunci: Lingkungan, Analisis polen, Gua Tögi Ndrawa
-
The aim of this study is to identify of petrology characteristic based on geochemical analysis in order to know the granitoid rock type. Administratively, the study area is in the City and District of Singkawang, West Kalimantan Province, at coordinate 108°48'30†- 109°1'30†E and 0°40'30†- 0°54'30†N and, situated ± 145 km to the north of Pontianak City. The outcrop of granitoid along Bajau Cape coast and its surrounding, had been analyzed petrographically and geochemically using AAS method. Based on analysis of five samples show that the ratio mole of Al2O3/(CaO+Na2O +K2O) > 1 ranged between 1.12 and 1.7, while the rest of three samples are moderately aluminous, with a ratio value between 0.5 and 1.0. The ratio between K2O and (K2O+Na2O+CaO) ranges 0.07 to 0.55 (moderate) that forms alkali feldspar normative ranges from 3.8 to 15.89 wt%. This ratio shows that granite alkali feldspar is classified to be calc-alkaline series. Petrographically, this rock is porfiritic texture, hollocrystalline, granular hypodiomorphic and biotite present as phenocryst, yellowish brown, euhedral, thin and platy. The content of oxides element (Na2O and MgO) tend to decrease, whereas of other oxides elements, namely Al2O3, TiO2, K2O, FeO and CaO increased, parallel with the raising of SiO2. Therefore, the Singkawang Granitoid can be grouped as alkali feldspar granite, syeno-granite and quartz monzonite.
Keywords: petrography, geochemstry, major elements, calc-alcaline affinity, granitoid type and Bajau Coast, West Kalimantan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik petrologi, berdasarkan analisa geokimia sehingga jenis batuan granitoidnya dikenali. Secara administratif, daerah penelitian termasuk ke dalam Kota dan Kabupaten Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat, pada koordinat 108°48'30†- 109°1'30†BT and 0°40'30†- 0°54'30†LU dan terletak ± 145 km, arah utara dari Kota Pontianak. Singkapan batuan granitoid sepanjang pantai Tanjung Bajau dan sekitarnya telah dianalisis secara petrografi dan geokimia dengan menggunakan AAS. Berdasarkan 5 contoh yang dianalisa menunjukan perbandingan mol Al2O3/(CaO+Na2O +K2O) > 1, yakni berkisar antara 1,12-1,7, sedangkan 3 contoh sisanya bersifat peraluminus sedang, dengan nilai ratio antara 0.5-1.0. Perbandingan antara K2O dan (K2O+Na2O+CaO) berkisar antara 0,07-0,55 (sedang) yang membentuk alkali normatif feldspar berkisar 3,84 – 15,89% (berat). Perbandingan tersebut menunjukan batuan Granit alkali feldspar yang tergolong dalam seri batuan kalk-alkali. Secara petrografi, batuan tersebut menunjukkan tekstur porfiritik, holokristalin, hipidiomorfik granular dengan biotit hadir sebagai fenokris, coklat kekuningan, euhedral, pipih dan sedikit berlembar. Kandungan unsur oksida (Na2O dan MgO) cenderung mengalami penurunan, sedangkan unsur oksida lainnya, yaitu Al2O3, TiO2, K2O, FeO dan CaO mengalami kenaikan sejalan dengan makin bertambahnya SiO2. Maka dengan demikian Granitoid Singkawang dapat dikelompokan menjadi granit alkali feldspar, syenit-granit dan kuarsa-monsonit.
Kata kunci: Petrografi, geokimia, senyawa utama, afinitas kalk-alkalin, batuan granitoid dan Pantai Bajau, Kalimantan Barat.
-
Fragments of ultramafic, metamorphic, basalt and serpentine compose coastal sediments. These fragments derived from outcrops in hinterland as well as the coast. Existence of greywacke sandstone through microscopic observation in coastal sediments indicate deep sea derivation. Marine sediments also show almost the same composition with coastal sediments.Rock fragment abundances of ultramafic (10-47%), serpentine (12-24%) and metamorphic (3-12%) in stream and coastal sediments which have direct relation with the presence of nickel metal in the research area were resulted from petrographic analyses. While mineralographic analyses of heavy mineral concentrate from wooden pan show the existence of ferro nickel (Fe-Ni) and nickeline (Ni-As) in coastal and stream sediments. XRF analyses show nickel contents in seabed sediments 0.0140 to 0.793 %, chromite 0.0179 to 0.1128% and iron 1.2 to 6.85%. Coastal water nickel distribution is controlled by local trapped waves in Buli Bay that excite by equatorial Pacific Ocean waves propagate westward. Nickel occurrences in marine sediments would be an interesting further research.Keywords: nickel, Buli coastal area, East HalmaheraFragmen-fragmen ultramafik, metamorfik, basalt dan serpentin menyusun sedimen pantai. Fragmen-fragmen ini berasal dari singkapan baik di darat maupun di pantai. Dijumpainya fragmen batupasir grewake yang teramati melalui mikroskop dalam sedimen pantai mengindikasikan asal laut dalam. Sedimen dasar laut menunjukkan kecenderungan komposisi yang hampir sama dengan sedimen pantai. Kelimpahan fragmen batuan ultramafik (10-47%), serpentin (12-24%) dan metamofik (3-12%) dalam sedimen sungai dan pantai yang memiliki hubungan langsung dengan keberadaan logam nikel di daerah penelitian dihasilkan dari analisis petrografi. Sedangkan analisis mineralografi pada konsentrat mineral berat hasil dulang mendapatkan fero nikel (Fe-Ni) dan nikelin (Ni-As) dalam sedimen pantai dan sungai.Analisis XRF mendapatkan nikel dalam sedimen dasar laut dengan kandungan 0,0140 hingga 0,793%, kromit 0,0179 hingga 0,1128% dan besi 1,2 hingga 6,85%. Sebaran nikel di perairan pantai dikontrol oleh gelombang lokal yang ditimbulkan oleh gelombang Samudera Pasifik ekuator yang bergerak ke barat. Keterdapatan nikel dalam sedimen dasar laut dapat menjadi riset yang menarik di masa datang.Kata kunci : nikel, pantai Buli, Halmahera Timur.
-
This study is focused on access channel model that safety factors of some slopes stability would be investigated. Plaxis version 8 is applied to analyze a magnitude of safety factors and displacements based on three different slopes of access channel there are 30°, 45° and 60°. Furthermore, parameters are adopted from geotechnical drilling and laboratory tests. A finite element is applied as a simple model to analyze within a Mohr-coulomb equation. Based on soil data analyses on Marine Center Plan, indicates low safety factor and high deformation. As results, 10 to 40 meters deformation of the slopes and 0.80 to 2.34 of safety factor are obtained of the models. For that reason, a combination between slope channel and infrastructure must be considered.
Keywords: Safety factor, slope stability, access channel, Marine centre, Plaxis
Kajian ini dilakukan terhadap faktor keamanan dari beberapa jenis kemiringan dinding alur pelayaran yang selanjutnya dilakukan pemodelan dengan menggunakan alur pelayaran Besarnya keruntuhan dan faktor keamanan pada beberapa sudut kemiringan yang berbeda telah dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak geoteknik Plaxis Versi 8. Tiga jenis kemiringan yang berbeda telah dibuat yaitu sudut kemiringan 30°, 45° dan 60°. Sebagai data masukan, parameter diambil berdasarkan hasil pemboran geoteknik yang telah dianalisis di laboratorium. Model sederhana elemen terbatas telah dibuat dan dianalisis berdasarkan persamaan Mohr-Coulumb. Berdasarkan analisis data tanah pada rencana Marine Centre menunjukan faktor keamanan yang rendah dan deformasi yang besar. Total deformasi yang dihasilkan berkisar 10-40 meter dengan nilai faktor keamanan 0,80~2,34. Oleh karena itu, dari hasil tersebut perlu dipertimbangkan untuk mengkombinasikan kemiringan alur dengan infrastruktur.
Kata kunci : faktor keamanan, kemiringan lereng, alur pelayaran, Marine centre, Plaxis
-
Karimata Strait is a part of Sunda Shelf connected South China Sea with Malacca Strait, Indian Ocean and Java Sea. This shelf was a large Sunda Land that has been detected by many evidences as records of various paleo-environments. The purpose of this study is to recognize the characteristic community of ostracoda related to the environmental history of this shelf. Three selected cores sediments represented east (A), middle (B) and west (C) parts of Karimata Strait were used for Ostracoda based on standard method on micropaleontology. Additional method was applied of SEM-EDX analysis to abnormal specimens. The result shows that there are 43 species of ostracoda belonging to 34 genera identified in the study area. The highest number of ostracoda is found in Core B, in the middle part of the strait, and the lowest value belongs to the Core A that close to the land of Kalimantan. Several genera of Ostracoda were documented in all cores: Actinocythereis, Cytherella, Cytherelloidea, Keijia, Keijella, Hemicytheridea, Hemikrithe, Neocytheretta, Neomonoceratina, Loxoconcha, Pistocythereis, Stigmatocythere and Xestoleberis. Vertically, ostracoda are mostly found in the upper part of the cores and decrease or disappear in the lower part of Cores A and C where dominated by black organic materials. It may relate to a wide swampy area before the last sea level rise as part of the history of the SundaShelf about 15,000 years ago. Some major elements (C, CaO, Al2O4, FeO, SiO2, MgOdan SO3 covered or filled abnormal specimens that can provide additional information about environmental changes in the study area, such as Carbon may relate to charcoal from land of Kalimatan and Sumatera
Keywords: Ostracoda, subsurface sediment, EDX, environmental changes, Karimata Strait Selat
Karimata merupakan bagian dari Paparan Sunda menghubungkan Laut China Selatan dengan Selat Malaka, Samudera Hindia, dan Laut Jawa. Paparan ini merupakan sebuah Dataran Sunda yang luas yang terdeteksi dari bukti-bukti sebagai rekaman berbagai lingkungan purba.Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui karakteristik komunitas ostracoda berkaitan dengan sejarah lingkungan paparan ini. Terpilih tiga sedimen pemercontoh inti mewakili bagian timur (A), tengah (B) dan barat (C) Selat Karimata digunakan untuk studi Ostracoda berdasarkan metoda standar pada mikropaleontologi. Metoda tambahan adalah aplikasi SEM-EDX terhadap spesimen abnormal. Hasil menunjukkan bahwa di daerah penelitian teridentifikasi 43 spesies ostracoda termasuk dalam 34 genera. Jumlah ostracoda tertinggi ditemukan di Core B dari bagian tengah selat dan terendah di Core A yang berdekatan dengan daratan Kalimantan. Beberapa genera ostracoda ditemukan di semua sampel: Actinocythereis, Cytherella, Cytherelloidea, Keijia, Keijella, Hemicytheridea, Hemikrithe, Neocytheretta, Neomonoceratina, Loxoconcha, Pistocythereis, Stigmatocythere dan Xestoleberis. Secara vertikal, ostracoda umumnya ditemukan di bagian atas dari core dan menurun atau menghilang di bagian bawah Core A dan C yang di dominasi oleh material organik berwarna hitam. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan daerah rawa yang luas dan sebelum muka laut naik terakhir pada sejarah Paparan Sunda sekitar 15.000 tahun yang lalu. Beberapa zat kimia (C, CaO, Al2O3, FeO, SiO2, MgO dan SO3) menutupi atau mengisi spesimen abnormal dapat memberi informasi tambahan tentang perubahan lingkungan di daerah penelitian, seperti karbon mungkin berkaitan dengan arang dari daratan Kalimantan dan Sumatera.
Kata kunci: Ostracoda, sedimen bawah dasar laut, EDX, perubahan lingkungan, Selat Karimat