Skip to main content

Index Geophysics

InterServer Web Hosting and VPS
InterServer Web Hosting and VPS

Items

Advanced search
  • LITOSTRATIGRAPHIC AND SEDIMENTOLOGICAL SIGNIFICANTS OF DEEPENING MARINE SEDIMENTS OF THE SAMBIPITU FORMATION GUNUNG KIDUL RESIDENCE, YOGYAKARTA

    Sambipitu Formation in the Southern Mountains plays an important role due to its stratigraphic position, between syn-volcanism and post- volcanism periods. The formation widely distributes along the southern slope of the Baturagung Mountains, Gunung Kidul Residence, Yogyakarta Province. Stratigraphically, the Sambipitu Formation is conformably underlain by dominated unit of volcanic breccias of the Nglanggran Formation, and conformably overlain by dominated unit of marl of the Oyo Formation. Based on detail section along the river of Ngalang, the Sambipitu Formation can be divided into Lower and Upper Members. The Lower Member is dominated by sandstone and siltstone, which is alternated by breccias. The Upper Member is dominated by siltstone and mudstone, which is intercalated by sandstone, marl and conglomerate. The Lower Member was deposited on an environment influenced by tidal current, which was highly affected by gravity flows of volcanic material. This deposition environment was getting deeper to be an inner shelf, where the Upper Member was deposited. Furthermore, based on Rock-eval pyrolysis, TOC value of the Sambipitu Formation ranges from 0.08% to 0.43%, whilst the PY (potential yield) value less than 0.15 mg HC/g rock. Thus, on the basis of those two parameters, the Sambipitu Formation is included into oil prone source rock potential of poor category. Moreover, Tmax value of the Sambipitu Formation ranges from 226°C - 335°C, with the HI (hydrogen Index) value varies from 0 – 12. It indicates that this formation contains kerogen Type III. Therefore, the organic thermal maturation based on plotting of Tmax vs HI, this formation falls into an immature category. Key word: Lithostratigraphy, volcanic material, tidal flat, inner shelf, and Sambipitu Formation. Formasi Sambipitu memegang peran penting karena posisi stratigrafinya yang terletak diantara perioda volkanisme dan pasca volkanisme. Formasi ini tersebar luas di lereng selatan Pegunungan Baturagung, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Formasi Sambipitu menindih selaras Formasi Nglanggran dan ditindih selaras oleh Formasi Oyo. Berdasarkan penampang stratigrafi rinci sepanjang Sungai Ngalang, Formasi Sambipitu dapat dibagi menjadi: Anggota Bawah dan Anggota Atas. Anggota Bawah didominasi oleh perselingan batupasir dan batulanau, dengan sisipani breksi gunung api. Sedangkan Anggota Atas didominasi oleh batulanau dan batulumpur dengan sisipan batupasir dan konglomerat. Anggota Bawah diendapkan di lingkungan paparan pasang-surut yang dipengaruhi oleh pengendapan material gunung api. Paparan pasang-surut itu semakin dalam menjadi paparan dalam dimana diendapkan Anggota Atas. Berdasarkan analisis Rock-eval pirolisis, nilai kandungan karbon total (TOC) serpih Formasi Sambipitu berkisar 0,08% – 0,43%, sedangkan Potential yield (kandungan cairan hidrokarbon) kurang dari 0,15 mg HC/g batuan. Berdasarkan dua parameter tersebut diatas, formasi tersebut termasuk kedalam kategori oil prone source rock, dengan kategori buruk (poor). Formasi Sambipitu mempunyai nilai temperatur maksimum (Tmax) antara 226°C - 335°C, dengan nilai HI (Hydrogen Index) kurang dari 12, menunjukkan formasi ini memiliki kerogen tipe III. Berdasarkan diagram temperatur maksimum (Tmax) terhadap nilai indeks hidrogen (HI) bahan organik, kematangan organik dari formasi ini termasuk ke dalam tingkat belum matang. Kata kunci: Litostratigrafi, material volkanik, paparan pasang-surut, paparan dalam, dan Formasi Sambipitu.
  • THE INFLUENCE OF COASTAL CONDITIONS TO TSUNAMI INUNDATION OF BIMA BAY, WEST NUSA TENGGARA

    Area along the coast that includes the territorial waters of the Bima Bay, West Nusa Tenggara, is prone to tsunamis, evidenced by the historical tsunamis record in 1815 due to the volcanic eruption of Tambora, 1818, 1836 and 1992 caused by earthquakes associated with tectonic system in the north of the island of Sumbawa, and 1892 were sourced from a distant source. Based on the coastal characteristics, the research area was divided into four types of beaches, namely: Steep rocky beach; Coastal walled plain; Flat coastal mangroves; and Flat sandy beaches. According to the lateral measurement, houses were built in the plains with a minimum height difference of 0.04 m at Rababuntu beach and a maximum of 22.63 m in New Asakota area. The settlement closest distance to the coastline is 10.3 m in Rababuntu, while the farthest extent is at Kawananta 194.58 m from the shoreline. The local bathymetry range between 1 and 42.5 m, where the inside of the very shallow waters of the Bay of Bima, gradually steeper at the mouth of the bay to the open sea. This conditions will influence the wave when entering the bay. It will come with large enough speed at the mouth of the bay, spread along the coastal waters of the eastern and continue spreading to all parts with the diminishing velocity, but the height increasing when it reaches shallow water, especially in the waters of the western Gulf of Bima. Several factors can affect the amount of risk that would be caused by the tsunami, in the research area include are: (1) The research area is located in an enclosed bay; (2) The local sea floor depths around the bay is relatively shallow waters; (3) Coastal characteristics of the research area is dominated by a gently sloping beach morphology with low relief, especially in the area of ??Bajo, Rababuntu and Bontokape and other beaches in the city of Bima; (4) Residential location very close to the shoreline; (5) Minimal vegetation cover; and (6) The presence of the artificial protective are inadequate. Based on tsunami modeling using the 1992 Flores earthquake parameter which is placed perpendicular to the research area obtain the maximum tsunami height around 4-5 m at Sowa and Kolo, near to the mouth of Bima Bay, while the minimum is at Kalaki, about 0,2 m which is at the inner bay. Keywords: Tsunami, coastal characteristics, bathymetry, factors influenced to tsunami inundation. Lokasi di sepanjang pantai yang mencakup wilayah Perairan Teluk Bima, Nusa Tenggara Barat, rentan terhadap tsunami, dibuktikan oleh catatan sejarah tsunami tahun 1815 karena letusan gunung berapi Tambora, 1818, 1836 dan 1992 disebabkan oleh gempa bumi yang terkait dengan tektonik sistem di bagian utara pulau Sumbawa, dan 1892 yang bersumber dari sumber yang jauh. Berdasarkan karakteristik pantai, daerah penelitian dibagi menjadi empat jenis pantai, yaitu: Pantai terjal berbatu; Pantai datar berdinding; Pantai datar berbakau; dan Pantai datar berpasir. Berdasarkan hasil pengukuran kemiringan pantai secara lateral, rumah dibangun di dataran pantai dengan perbedaan ketinggian minimal 0,04 m di Rababuntu dan maksimal 22,63 m di daerah Asakota Baru. Jarak terdekat bangunan terhadap garis pantai adalah 10.3 m di Rababuntu, sedangkan jarak terjauh adalah di Kawananta 194,58 m dari garis pantai. Rentang batimetri di perairan Teluk Bima berkisar antara 1 dan 42,5 m. Bagian dalam Perairan Teluk Bima sangat dangkal, secara bertahap makin alam dan curam di mulut teluk hingga ke laut terbuka. Kondisi ini akan mempengaruhi gelombang ketika memasuki Teluk. Gelombang akan datang dengan kecepatan yang cukup besar di mulut teluk, tersebar di sepanjang perairan pantai timur dan terus menyebar ke seluruh bagian dengan kecepatan berkurang, namun ketinggian meningkat saat mencapai perairan dangkal, terutama di perairan barat Teluk Bima. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah risiko yang akan disebabkan oleh tsunami, di daerah penelitian meliputi: (1) Daerah penelitian terletak di teluk tertutup; (2) Kedalaman dasar laut di sekitar Teluk adalah perairan yang relatif dangkal; (3) Karakteristik Pantai daerah penelitian didominasi oleh pantai morfologi landai dengan relief rendah, terutama di daerah Bajo, Rababuntu dan Bontokape dan pantai-pantai lainnya di Kota Bima; (4) Lokasi perumahan sangat dekat dengan garis pantai; (5) Minimalnya vegetasi penutup; dan (6) Keberadaan pelindung buatan tidak memadai. Kata Kunci: Tsunami, karakteristik pantai, batimetri, faktor yang mempengaruhi landaan gelombang tsunami.
  • Estimation of Sea Current Energy Potential by Using Calculation Models of Horizontal Axis Current Turbine in Toyapakeh Strait, Nusa Penida, Bali

    Toyapakeh Strait has a fairly strong ocean current velocity with a velocity between 0.5 m/s – 3.2 m/s. The duration of the strong current (V> 0.5 m/s) ranges from 13-22 hours per day. The location of the strong current occurrence is located to the east of Nusa Lembongan Island, precisely at the stationary current measurement location. Vertical distribution of the direction and velocity currents at this location are not uniform from the top to the bottom, especially in the water column depths of 2 m, 4 m and 6 m, whereas at the water column depths of 8 m to 16 m are relatively uniform. Calculation results of potential electrical power by using the horizontal axis turbine model with a capacity of 35.9 kW (Rite Verdan), 100 kW (Tocardo DD702HT) and 250 kW (Tocardo DD1001HT) show that all of the values have the optimal electric powers, especially during the spring tide, whereas during the neap tide only the turbine with a capacity of 35.9 kW can retrieved an optimal electrical power. Calculation result of the electric power potential by using the method of calculation performed by the Electric Power Research Institute Inc. at the point of measurement, indicated that the total amount of energy 42.5 MWh per month for the turbine model Tocardo DD1001HT, 17.27 MWh per month for turbine model DD702HT Tocardo, and 9.08 MWh per month for the turbine model Rite Verdan.Keywords: Toyapakeh Strait, current velocity, time duration, electric power, depth of the water column Perairan Selat Toyapakeh mempunyai kecepatan arus laut yang cukup kuat dengan kecepatan berkisar antara 0,5 m/det – 3,2 m/det. Durasi terjadinya arus kuat (V>0,5 m/det) berkisar 13 – 22 jam per hari. Lokasi tempat terjadinya arus kuat terletak di sebelah timur Pulau Nusa Lembongan, tepatnya di lokasi tempat pengukuran arus stasioner. Secara vertikal distribusi arah dan kecepatan arus di lokasi ini tidak seragam dari atas ke bawah, terutama pada kedalaman kolom air 2 m, 4 m dan 6 m, sedangkan untuk kedalaman kolom air 8 m sampai 16 m relatif seragam. Hasil perhitungan potensi daya listrik dengan menggunakan model turbin sumbu horisontal dengan kapasitas 35,9 kW (Rite Verdan), 100 kW (Tocardo DD702HT) dan 250 kW (Tocardo DD1001HT) diperoleh daya listrik yang cukup optimal terutama saat spring tide, sedangkan saat neap tide hanya turbin dengan kapasitas 35,9 kW yang masih menghasilkan daya listrik secara optimal. Hasil perhitungan potensi daya listrik dengan menggunakan metode perhitungan yang digunakan oleh Electric Power Research Institute Inc. di titik pengukuran diperoleh total energi yang dihasilkan dari model turbin Tocardo DD1001HT adalah sebesar 42,5 MWh per bulan, model turbin Tocardo DD702HT adalah sebesar 17,27 MWh per bulan, dan model turbin Rite Verdan adalah sebesar 9,08 MWh per bulan.Kata Kunci : Selat Toyapakeh, kecepatan arus, durasi waktu, daya listrik, kedalaman kolom air
  • BENTHIC FORAMINIFERA IN SOUTH WAIGEO WATERS, RAJA AMPAT, WEST PAPUA

    Waigeo Island is one of four large islands of the Raja Ampat group, West Papua Province. This area lies in the heart of the coral triangle region as the most marine bio-diversity on Earth. Coral reef ecosystem of the Waigeo is a favorable habitat for various organisms including foraminifera. Foraminifera have been proven as useful indicator of water quality surrounding the coral reef environment since FORAM Index was formulated. It gives additional importance of foraminifera beside their common uses on micropalaeontology for petroleum industry and palaeoecology. Therefore, it is very important to obtain data of the benthic foraminifera from various coral reef environments in Indonesia, such as around Waigeo Island. Sediment samples of this study were collected from 12 sites in southern part off Waigeo Island, on July 2011. Observation on benthic foraminifera shows that the study area is dominated by symbiotic bearing benthic foraminifera, Amphistegina lessonii, belongs to Suborder Rotaliina. This occurrence increases the values of FORAM Index (FI) at certain sites. Generally, the values of FI from most sites are high (FI>4) that provide a good indication for reef growth or recovery. The values of FI less than 2 are found at RJ3 and RJ4 indicate stress environment for reef growth and they are dominated by opportunistic and heterotrophic functional groups of Elphidium and Quinqueloculina. Keywords: benthic foraminifera, high value FI, Waigeo Island, West Papua Pulau Waegio merupakan salah satu dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Wilayah in terletak di jantung segitiga terumbu karang sebagai pusat paling kaya keanekaragaman hayatinya di bumi. Ekosistem terumbu karang Waigeo merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan berbagai organisme termasuk foraminifera. Foraminifera telah terbukti sebagai indikator kualitas air sekitar terumbu karang setelah diformulasikan Indeks FORAM. Dengan demikian foraminifera telah mempunyai kegunaan tambahan selain fungsi umum dalam bidang mikropaleontologi pada industri perminyakan dan paleoekologi. Oleh karena itu sangat penting untuk mendapatkan data foraminifera bentik dari ekosistem terumbu karang di wilayah Indonesia, seperti perairan Pulau Waigeo. Sampel sedimen untuk studi ini diambil di 12 titik lokasi sebelah selatan Pulau Waigeo pada bulan Juli 2011. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa daerah penelitian di dominasi foraminifera bentik yang bersimbose dengan terumbu karang, Amphistegina lessonii, anggota Subordo Rotaliina. Kehadirannya meningkatkan nilai FI dari titik lokasi tertentu. Sebagian besar titik lokasi mempunyai nilai FI>4 memberi indikasi bahwa kondisi perairannya kondusif untuk pertumbuhan karang yang terletak di ekosistem terumbu karang. Secara umum, nilai FI di sebagian besar titik lokasi tinggi (>4) yang member indikasi kondisi lingkungan bagus bagi pertumbuhan karang. Nilai FI rendah (
  • THE EXISTENCE OF COASTAL FOREST, ITS IMPLICATION FOR TSUNAMI HAZARD PROTECTION, A CASE STUDY: IN CILACAP-CENTRAL JAVA, INDONESIA

    The southern coast of Java which is facing to the Indian Ocean has many of natural hazard potential come from the sea. Since 2006 tsunami impacted the southern coast of Java, and caused severely damage especially along the coast of Cilacap (1-7,7 m run up height). People commit to do greening the beach by planting suitable plants such as a Casuarina equisetifolia, Terminalia catappa, and Cocos nucifera. This paper discusses the existence of coastal forests in Cilacap coastal area, their potential ability as a coastal protection from the tsunami wave which cover the density, diameter, height, age, and other parameters that affects the coastal defence against tsunami waves. Some experiences of tsunamis that have occurred, indicating that the above parameters linked to the ability of vegetation to act as a natural barrier against tsunamis. In the case of sandy beaches, such as in Cilacap, Pandanus odorarissimus has more effectiveness than other trees due to its hanging roots that can withstand the tsunami height less than 5 m, able to withstand debris and can withstand the scouring effects of tsunami waves, while Casuarina equisetifolia along Cilacap beaches more dominant than other trees, so it is recommended to increase the diversity of plants as well as increase the density and tree placement setting. By field measurement in order to get parameter applied to some graphs, Cilacap coastal forest does not enough capability for tsunami barrier reflected to the tsunami height experience in this region. Ages could be the important parameter in order to have bigger diameter trunk, higher trees height, and high resistance capacity againts tsunami hazard potential. Compare to Kupang, East Nusa Tenggara, Cilacap coastal forest still young and need some more years to make trees ready act as tsunami reduction. Keywords: Cilacap coastal forest, Kupang, tsunami, vegetation parameters. Pantai Selatan Jawa yang berhadapan dengan Samudera Hindia, memiliki banyak potensi mengalami bahaya yang datang dari lautan. Selama tahun 2006, Tsunami telah menimpa sebagian pantai selatan Jawa dan menyebabkan banyak kerusakan parah terutama di sepanjang Pantai Cilacap (tinggi gelombang 1-7,7 m). Masyarakat melakukan penghijauan pantai dengan menanam sejumlah pohon yang sesuai dengan kondisi pantai, seperti pohon cemara pantai (Casuarina equisetifolia), ketapang (Terminalia cattapa) dan kelapa (Cocos nucifera). Tulisan ini membahas penyebaran hutan pantai di wilayah pantai Cilacap, kemampuan dan potensi hutan tersebut sebagai pelindung alami pantai dari bahaya gelombang tsunami, yang terdiri dari kerapatannya, diameter, tingginya, umur, dan parameter lainnya yang mempengaruhi daya tahan pantai terhadap gelombang tsunami. Beberapa pengalaman mengenai kejadian yang telah terjadi, memperlihatkan bahwa parameter tersebut di atas mempengaruhi kemampuan tanaman sebagai penahan alamiah terhadap tsunami. Untuk kondisi pantai berpasir seperti Cilacap, tanaman pandan pantai lebih efektif dibandingkan dengan tanaman lainnya, dikarenakan akarnya yang dapat menahan tinggi gelombang kurang dari 5 m, selain itu akar tersebut dapat menahan material dan erosi vertikal gelombang tsunami, sementara di sepanjang pantai Cilacap, tanaman cemara pantai (Casuarina equisetifolia) lebih dominan dibandingkan tanaman lainnya. Kondisi ini dapat direkomendasikan untuk tetap dipertahankan bahkan ditambah jumlahnya. Di lapangan dilakukan pengukuran parameter tanaman pantai dan hasilnya diplot dalam bentuk grafik dan diaplikasikan dalam grafik yang dibuat berdasarkan hasil penelitian terhadap tsunami di beberapa tempat di dunia terutama di Jepang. Berdasarkan tinggi gelombang maksimum yang pernah terjadi di daerah ini (7,7 m), terlihat bahwa hutan pantai Cilacap belum cukup mampu bertindak sebagai penahan gelombang tsunami. Umur merupakan parameter penting agar pohon memiliki diameter yang besar, pohon yang cukup tinggi dan daya tahan terhadap potensi bahaya tsunami. Dibandingkan dengan hutan pantai di Kupang, Nusa Tenggara Timur, hutan pantai di Cilacap relatif masih muda dan membutuhkan beberapa tahun lagi untuk dapat memperkecil resiko yang ditimbulkan oleh bahaya tsunami. Kata kunci: Hutan pantai Cilacap, Kupang, tsunami dan parameter vegetasi.
  • Zonation of Marine Geological Environment of Wangi-wangi Island Waters and Adjacent Area Wakatobi Districs Southeast Celebes Province

    Wakatobi is one of coastal and marine tourism destination in South–East Celebes Indonesia. Coastal and marine characteristics of this area is composed of diverse biota as the main tourism attraction. Unfortunately, increasing human needs and activities, particularly coral reefs exploitation for construction and other life aspect, endanger the sustainability of marine environment of Wakatobi and the surrounding area. The purpose of this study is to determine marine geology environmental zonation in Wangi–wangi– Kapota Islands, as a consideration for local government in monitoring and regulating the coastal area. The methods that were applied in this study are coastal characteristic mapping, sedimentology, and mineralogy analyses from 34 marine surface sediments. Marine surface sediments have been collected by Marine Geological Institute (MGI) team in 2014. The result indicates that coastal and marine characteristic of Wangi–wangi and Kapota are influenced by geological processes since Middle Miocene. The seafloor morphology is characterized by gentle slopes around coastline that is abruptly changed to very steep slopes seaward. In general, the surficial sediments consisted of biogenic sands that are distributed around coastlines and trapped within coral reefs. Coastal types of this area are generally white coral sand beaches, coral reef platforms, and notches. The area of Wangi–wangi and Kapota can be divided into 4 (four) environmental zone: Flat Plain (Zone I), Sandy Beach (Zone II), Limestone and Coral Reef (Zone III), and Sedimentary Flat (Zone IV). Zone IV in the centre area between Wangi–wangi and Kapota island is considered as the most vulnerable area due to both natural and anthropogenic factor. Keywords: zonation, seafloor morphology, tourism, Wangi–wangi–Wakatobi, Southeast Celebes ProvinceWakatobi adalah salah satu tujuan wisata pantai dan laut yang menarik dikunjungi di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Karakteristik pantai dan laut daerah ini disusun oleh keragaman biota laut yang merupakan daya tarik bagi pariwisata. Sayangnya, seiring dengan berkembangnya aktifitas dan kebutuhan manusia, terutama meningkatnya eksploitasi pemanfaatan terumbu karang untuk konstruksi bangunan dan berbagai aspek kehidupan, mengancam kelestarian lingkungan alami Wakatobi dan sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat zonasi lingkungan pantai dan sekitarnya di Pulau Wangi–wangi dan Kapota, sehingga bisa memberikan pertimbangan bagi pemerintah setempat dalam pengawasan dan regulasi lingkungan kawasan pantai dan sekitarnya. Untuk penelitian ini, metode yang dilakukan adalah pemetaan karakteristik pantai, analisis sedimentologi dan mineralogi yang dilakukan terhadap 34 sedimen permukaan dasar laut. Pengambilan sampel sedimen permukaan dasar laut telah dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) pada tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pantai dan laut Wangi–wangi dan Kapota dipengaruhi oleh proses geologi yang telah berlangsung sejak Miosen Tengah. Morfologi dasar laut dicirikan oleh lereng landai di sekitar tepi pantai dan berubah dengan tegas menjadi curam ke arah laut lepas. Pada umumnya tekstur sedimen permukaan dasar laut terdiri atas pasir biogenik tersebar di sekitar garis pantai, dan mengisi di dalam terumbu koral. Jenis pantai sebagian besar berupa pantai pasir koral berwarna putih, pedataran pantai terumbu koral, serta morfologi pantai berupa takik. Kawasan pantai Wangi–wangi dan Kapota bisa dibagi ke dalam 4 (empat) zonasi lingkungan: Flat Plain (Zona I), Sandy Beach (Zona II), Limestone and Coral Reef (Zona III), dan Sedimentary Flat (Zona IV). Zona IV di area tengah antara Pulau Wangi–wangi dan Pulau Kapota merupakan area yang paling rentan mengalami kerusakan lingkungan akibat faktor alami dan aktifitas manusia. Kata kunci: zonasi, morfologi dasar laut, wisata, Wangi–wangi–Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara
  • POTENTIAL HAZARDS OF SEDIMENT IN KENDARI BAY, SOUTHEAST SULAWESI

    Kendari bay is located in front of Kendari city. There are two harbors in the inner part of bay which very important to support economic activities such as shipping and passenger transportation. The result of coastal characteristic mapping and physical oceanography survey show various coastal morphology, vegetation, weathering processes, sedimentation, currents, and water depth and sea floor morphology. Kendari bay is an enclosed bay; the area is wide in the inner part and narrow in mouth of bay (outlet), the morphology look like a bottle’s neck. Numerous mouth rivers are concentrate around the bay. The rivers load material from land since erosion on land is intensive enough. There is indication that sediment supplies from land trough river mouth not equivalent with outlet capacity. Sediment load is trapped in the inner bay caused the outlet morphology. So high sediment rate play an important role in the process of shallow of water depth in Kendari bay. This condition make the Kendari bay is a prone area of sediment hazard due to height rate of sedimentary process. Therefore, to anticipate the hazards, precaution should be taken related to the Kendari bay as the center of activities in southeast of Sulawesi. The further survey is needed such as marine geotechnique and on land environmental to collect data, which can be used as database for development planning. Key words: Potential hazard, sediment, Kendari Bay Teluk Kendari terletak di bagian depan kota Kendari. Di bagian dalam teluk terdapat 2 pelabuhan yang sangat penting untuk menunjang kegiatan ekonomi seperti perikanan dan transportasi. Hasil pemetaan karakteristik pantai dan penyelidikan oseanografi memperlihatkan kondisi morfologi pantai, vegetasi, proses pelapukan, sedimentasi, arus, kedalaman air laut dan morfologi dasar laut. Teluk Kendari merupakan teluk tertutup yang lebar di bagian dalamnya dan sempit di bagian mulutnya dimana morfologinya terlihat seperti lehar botol. Beberapa mulut sungai terkosentrasi di sekitar teluk. Sungai bermuatan material dari daratan selama erosi didaratan cukup intensif. Hal ini mencerminkan indikasi suplai sedimen dari darat melalui muara sungai tidak sama dengan kapasitas pengeluaran. Muatan sedimen terperangkap di bagian dalam teluk dan menyebabkan terbentuknya morfologi cerobong. Tingginya muatan sedimen merupakan proses yang penting terjadinya pendangkalan di Teluk Kendari Kondisi tersebut menyebabkan Teluk Kendari cenderung merupakan daerah yang akan mengalami bahaya pendangkalan akibat tingginya proses sedimentasi. Oleh karena itu untuk menanggulagi bahaya tersebut, harus dilakukan pencegahan karena Teluk Kendari merupakan pusat kegiatan di Sulawesi Tenggara. Penelitian selanjutnya seperti pengumpulan data geoteknik kelautan dan lingkungan sangat diperlukan untuk dijadikan data dasar untuk rencana pengembangan.
  • Shallow Gas Features Based on Interpretation of Bottom Profilling Records at Topang Delta, Meranti Regency, Riau Province

    One of the tasks in conducting a renewable energy research is finding a shallow gas contained commonly in river deltas. The location chosen is in Topang Delta,, Meranti District, Riau Province in 2015. The research was conducted by using sub-bottom profiling (SBP) method. Biogenic gas indications could be observed in the SBP records in the forms of free reflector, acoustic plumes and acoustic blanket. The shallow biogenic gas at research area is trapped in A and B sequences. Sequence A is characterized by plume gas and acoustic blanket, while B-type biogenic gas is showed by free-reflector feature of 10-15 meters depth. Sediment which does not have porocity such as old clay is required environment for anaerobic bacteria as catalyst in the formation of biogenic gas to be evolved. Old clay sediment is potential as a biogenic gas source rock afterwards migrated to a layer of sand as a reservoir rock. Some parts of biogenic gas does not appear to the surface because there have been traped in cap rock in form of young clay sediment.Keywords: Topang Delta, Biogenic Gas, free reflector, acoustic plumes, acoustic blanket Salah satu tugas dalam melakukan penelitian energi terbarukan adalah pecarian gas dangkal yang biasa terdapat di delta-delta sungai. Lokasi yang terpilih adalah di delta Topang  Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau pada tahun 2015. Penelitian yang dilakukan salah satunya menggunakan metoda sub bottom profilling (SBP). Indikasi gas biogenik tampak dalam rekaman subbottom profilling berupa reflektor bebas pantul, terobosan gas dan selimut akustik. Keterdapatan gas biogenik dangkal di lokasi penelitian terjebak dalam sekuen sedimen A dan B. Sekuen A dicirikan dengan kenampakan berupa terobosan gas dan selimut akustik, sedangkan biogenik gas tipe-B dicirikan dengan kehadiran reflektor bebas pantul dengan ketebalan 10-15 meter. Sedimen yang tidak memiliki porositas seperti lempung tua merupakan lingkungan yang dimungkinkan untuk bakteri anaerobik sebagai katalisator dalam pembentukan gas biogenik. Endapan lempung tua berpotensi sebagai batuan sumber biogenik gas kemudian bermigrasi ke lapisan sedimen pasir sebagai tempat tersimpannya gas biogenik. Sebagian gas biogenik tidak dapat muncul ke permukaan hingga lapisan atas karena terjebak dalam lapisan sedimen penutup berupa lempung muda.Kata Kunci : Delta Topang, Gas Biogenik, bebas pantul, terobosan gas, selimut akustik
  • Seabed Characterization through Image Processing of Side Scan Sonar Case Study: Bontang and Batam

    Acoustic waves propagate through a medium meet the Snell’s Law, its energy is reflected and some are scattered back at certain angle. The Side Scan Sonar (SSS) methods use this principle to identify seabed character. The intensity of the backscatter greatly depends on the morphology and sediments texture or rocks distributed on seabed.The intensity of backscatter waves is a representation of the morphology, sediments texture, and types of rock that distributed on the seabed, therefore it is possible to estimate sedimentary texture and identify the presence of rocks or coral reefs based on this information. In this publication authors estimate sediments texture, rocks or coral reefs based on backscatter intensity through the image processing on the Side Scan Sonar (SSS) image. Intensity will be converted into pixel values on the image with range value 1-255 (gray scale image) and entropy values which are statistical measures of randomness. Entropy value is maximum when most of pixel value image is in the middle of the colour spectrum range (between very dark to very bright), in contrast, it is minimum when pixel value is in the spectrum of very dark or very bright. Based on both parameters, classification is conducted. The classification is carried out on the SSS image at Bontang and Batam that have very different seabed characters.The classification results using an image processing shows that the distribution of sediment textures consist of 4 (four) classes for either Batam or Bontang. In the Bontang area, very fine sediments were identified which are associated with low value of both intensity and entropy - dark zones in gray scale images, and coarse sediments associated with high value of both intensity and entropy - bright zone in the gray scale image. Similar characteristic is observed in Batam area, which are identified fine sediment (associated to low intensity) - coarse sediments (high intensity). In contrast to Bontang, in Batam the entropy exhibit the opposite value, high value are correlated to fine sediment and vice versa. This might be due to the presence of rocks and sedimentary structures.Keywords: Side Scan Sonar, Intensity, Backscatter and entropy.Gelombang akustik sebagian besar energinya dipantulkan memenuhi prinsip snellius dan sebagian kecil dihamburkan balik dengan sudut. Metode Side Scan Sonar (SSS) memanfaatkan prinsip hambur-balik gelombang untuk mengidentifikasi permukaan dasar laut. Intensitas gelombang dari karakter hambur-balik akan sangat tergantung morfologi dan tekstur sedimen atau batuan dari permukaan dasar lautnya. Intensitas gelombang hambur-balik merupakan representasi dari morfologi, tekstur sedimen, dan jenis batuan yang tersebar di permukaan dasar laut, sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan estimasi tekstur sedimen dan identifikasi keberadaan batuan maupun terumbu karang berdasarkan informasi tersebut. Pada publikasi ini akan dilakukan estimasi tekstur sedimen atau batuan berdasarkan intensitas hambur-balik melalui image yang dihasilkan oleh Metode Side Scan Sonar (SSS). Intensitas akan dikonversi ke dalam nilai pixel dalam image dengan rentang nilai 1-255 (gray scale image) dan nilai entropi yang merupakan ukuran statistik ketidakteraturan dari image. Entropi akan maksimum ketika nilai pixel kebanyakan di tengah dari rentang spektrum warna dan sebaliknya akan minimum ketika nilai pixelnya berada di spektrum warna sangat gelap atau sangat terang. Berdasarkan kedua parameter tersebut, kemudian dilakukan klasifikasi. Klasifikasi dilakukan pada data SSS Bontang dan Batam yang memiliki karakter permukaan dasar laut yang sangat berbeda.Hasil klasifikasi dengan image processing memperlihatkan pola sebaran tekstur sedimen masing-masing terdiri dari 4 (empat) kelas baik untuk Batam atau Bontang. Pada area Bontang teridentifikasi sedimen sangat halus yang berasosiasi dengan intensitas dan entropy rendah - zona gelap pada gray scale image dan sedimen kasar yang berasosiasi dengan intensitas dan entropy tinggi - zona terang pada gray scale image. Karakter yang sama juga teramati pada area Batam, yaitu teridentifikasi sedimen halus (berasosiasi dengan intensitas rendah) - sedimen kasar (intensitas tinggi). Namun, berbeda dengan di Bontang, di Batam nilai entropi menunjukkan nilai yang sebaliknya, yaitu nilai tinggi berkorelasi dengan sedimen halus, dan sebaliknya. Hal ini diperkirakan akibat keberadaan batuan dan struktur sedimen.Kata Kunci: Side Scan Sonar, Intensitas, Hambur balik dan Entropi.
  • DIAGENETIC FEATURES OF PALEO LAGOONAL REEF OF TACIPI AREA, SOUTH CELEBES

    Limestone outcrops of the Tacipi area is an ideal carbonate platform part of Neogene East and West Sengkang Basin that are located in the south part of Sulawesi, precisely in western of Bone city. The limestones of this area, outcropping mainly on the north-south oriented hills such as Temapole, Anadara, Tamping, Lappa, etc., are the best reef example in the Tacipi area, as the reef itself, its debris and detritus can be distinguished in the field. Throughout the ridges and pinnacle in Tacipi field the limestones are predominantly homogenous boundstones on the top and detrital bioclastic packstones with local grainstones, and wackestones at the bottom. There are four major reef zonation indentified pacth reef, barrier reef, fore reef and lagoon. The extensive freshwater leaching of fossil fragments and calcareous cement give the preservation of biomouldic and vug pore spaces. Key words : limestones, reef, Tacipi Singkapan batugamping daerah Tacipi merupakan suatu paparan karbonat Neogen yang ideal di timur dan barat Cekungan Sengkan yang terletak di bagian selatan Sulawesi, tepatnya di sebelah barat kota Bone. Batugamping di daerah tersebut, terutama tersingkap berorientasi utara – selatan sejajar gunung-gunung seperti di Tempole, Anadara, Tamping, Lappa dan lain-lain, merupakan contoh terumbu terbesar di daerah Tacipi, sebagai bagian dari terumbu, sisa-sisa dan runtuhannya dapat dibedakan di daerah tersebut. Sepanjang punggungan dan puncaknya di daerah Tacipi, batugamping merupakan bagian utama dari lapisan pengikat yang homogen di bagian atas dan detrital bioklastik koral terpilah buruk dengan lokal struktur butiran secara setempat, dan struktur bioklastik laut pada bagian bawah. Ada empat zonasi utama terumbu yang telah identifikasi sebagai karang gosong, karang penghalang, karang depan dan lagun. Air tawar yang luas terlarut dari pecahan fosil dan semen mengandung zat kapur memberikan pengawetan terhadap jejak-jejak kehidupan dan pori-pori. Kata kunci : batugamping, terumbu, Tacipi
InterServer Web Hosting and VPS
InterServer Web Hosting and VPS