Skip to main content

Index Geophysics

InterServer Web Hosting and VPS
InterServer Web Hosting and VPS

Items

Advanced search
  • NEW LAND ACCRETION FROM 2000-2003 AT SEGARA ANAKAN LAGOON, SOUTH COAST OF WEST AND CENTRAL JAVA

    Segara Anakan Lagoon is an unique lagoon , where a lot of rivers enter into the lagoon such as Citanduy, Cibeureum, Cijolang, Cikawung and Ciseel Rivers. These rivers bring the sediment materials from upstream to the lagoon areas and resisted by Nusa Kambangan Island. The rate of sediment transportation every year occurred continuously and significantly. Its caused the creation of new land at eastern part of Segara Anakan Lagoon was about 376.69 hectares which is located at Cilacap District, while in the western part is about 15,78 hectares which is located at Ciamis District. Since 1999 to 2003 land accretion at Segara Anakan Lagoon was about 392.47 hectares with the rate of accretion around 78.50 hectares/year. In 1999 the area of the Segara Anakan Lagoon approximately 1,595 hectares. Based on the averages of rate land accretion, its predicted that in the middle of the 2019 whole of Segara Anakan will be land. The study had been done in 2003 by using hand drilling up to 2 meters depth, grab sampler and GPS Garmin 250 Map. The hand drilling result at accretion area, show that at eastern part of study area is composed of silt and cly, while at Nusawere Bay and Solok Jero is characterized by fine to coarse sand. Keywords : sediment materials, accretion area, and Segara Anakan Segara Anakan merupakan sebuah laguna yang unik dimana banyak sungai yang bermuara di perairan tersebut seperti Citanduy, Cibeureum Cimuntur, Cijolang, Cikawung, dan Ciseel. Sungai-sungi tersebut membawa material sedimen dari daerah aliran hulu ke kawasan laguna yang tertahan oleh Pulau Nusa Kambangan. Transportasi sedimen berlangsung terus menerus dengan laju pertambahan dari tahun ke tahun cenderung meningkat secara signifikan. Akibatnya terjadi pertambahan daratan di perairan Segara Anakan bagian timur sekitar 376,69 hektar yang termasuk wilayah Kabupaten Cilacap dan di bagian barat sekitar 15,78 hektar yang terletak di wilayah Kabupaten Ciamis. Sejak 1999 – 2003, total luas pertambahan daratan di perairan Segara Anakan sekitar 392,47 hektar dengan perkiraan laju pertambahan daratan sekitar 78,50 hektar/tahun. Tahun 1999 luas Perairan Segara Anakan kurang lebih 1.595 hektar. Berdasarkan laju pertambahan daratan rata-rata tersebut, maka diperkirakan pada pertengahan tahun 2019 Perairan Segara Anakan seluruhnya menjadi daratan. Pada tahun 2003, telah dilakukan penelitian dengan menggunakan bor tangan sampai kedalaman 2 meter, pemercontoh comot dan GPS Garmin 250 Map. Hasil pemboran di lokasi pertambahan daratan tersebut menunjukkan di bagian timur tersusun dari lanau dan lempung, sedangkan di Teluk Nusawere dan Solok Jero disusun oleh pasir berbutir halus sampai sangat kasar. Kata kunci : material sedimen, pertambahan daratan, dan Segara Anakan
  • Hydrodynamics of Palu Bay during the Event of 2018 Palu Earthquake and Tsunami

    The devastation of coastal area in Palu Bay few minutes after the September 28th, 2018 Sulawesi earthquake showed high variation of tsunami arrival time as well as the tsunami run-up and inundation. Recent findings showed that both local submarine landslides and the normal-slip components inside the Palu Bay may contribute to the generation of tsunami. However, the fact that the event occurred during high tide, the hydrodynamic characteristics of this narrow bay and their role in the dynamics of the generated of tsunami were unknown. Hydrodynamics simulation (Mike21-flow model) using the latest available bathymetry field data (the 2018 deep water of the Indonesian navy data and 2015 shallow water of the BIG data) was conducted to investigate the variation of sea levels and tidal currents within the bay during the event of earthquake and tsunami or within the first 8 minutes timeframe. Results showed that significant increase of water elevation up to 6 cm and current velocity up to 1 cm/s directed towards the city of Palu were observed that may contribute to the dynamics of the tsunami e.g. the speed of tsunami arrival time and the transformation of tsunami. Therefore, considering that multiple tsunami arrivals were in few minutes after the earthquakes, the hydrodynamics of Palu Bay during the event should also be considered in future tsunami simulation scenarios.Keywords: Palu, Tsunami, Earthquake, Tides, Hydrodynamic Kerusakan kawasan pesisir di Teluk Palu beberapa menit setelah gempa bumi 28 September 2018 menunjukkan variasi yang sangat beragam pada tinggi tsunami, limpasan, waktu tiba dan jarak rendaman. Penemuan terkini memperlihatkan bahwa longsoran bawah laut dan meknisme patahan normal kemungkinan besar berkontribusi pada terjadinya tsunami. Namun, fakta bahwa kejadian tsunami terjadi saat kondisi pasang tinggi, karakteristik hidrodinamika dari teluk yang sempit ini dan perannya dalam tsunami yang terjadi belum diketahui. Simulasi hidrodinamika (Mike 21 – flow model) berdasarkan data batimetri terkini (Dinas hidroosenografi TNI AL dan BIG) menginvestigasi variasi muka air dan arus pasang surut saat kejadian gempa bumi dan tsunami atau dalam kurun waktu 8 menit setelah gempa utama. Hasil simulasi memperlihatkan peningkatan tinggi muka air yang cukup signifikan hingga 6 cm dan kecepatan arus hingga 1 cm/s menuju kota Palu yang dapat berkontribusi pada dinamika tsunami di Teluk Palu (waktu tiba dan transformasi tsunami). Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan kedatangan tsunami yang terjadi dalam beberapa menit, hidrodinamika Teluk Palu perlu dipertimbangkan dalam skenario pemodelan tsunami di masa yang akan datang.Kata kunci: Palu, Tsunami, Gempa bumi, Pasut, Hidrodinamika
  • PALEO-CHANNELS OF SINGKAWANG WATERS WEST KALIMANTAN AND ITS RELATION TO THE OCCURRENCES OF SUB-SEABOTTOM GOLD PLACERS BASED ON STRATA BOX SEISMIC RECORD ANALYSES

    Strata box seismic records were used to analyze sub-seabottom paleochannels in Singkawang Waters, West Kalimantan. Based on the analyses, it can be identified the distribution and patterns of paleochannels. Paleo channel at northern part of study area interpreted as a continuation of Recent coastal rivers; and at the southern part, the pattern radiates surround the cone-shaped morphology of islands, especially Kabung and Lemukutan Islands. Paleochannels of the study area belong to northwest Sunda Shelf systems that terminated to the South China Sea. A study on sequence stratigraphy was carried out to better understanding sedimentary sequences in the paleochannels. This study is also capable of identifying placer deposits within the channels. Based on criterias of gold placer occurrence such as existence of primary gold sources, intense chemical and physical weathering to liberate gold grains from their source rocks of Sintang Intrusive. Gravity transportation that involved water media, stable bed rock and surface conditions, caused offshore area of Singkawang fulfill requirements for gold placer accumulations. Chemical and physical whethering proccesses from Oligocene to Recent, approximately 36 million, might be found accumulation of gold placer on the seafloor. Based on grain size analyses, the study area consisted of sand 43.4%, silt 54.3% and clay 2.3%. Petrographic examination of the sample shows gold grains about 0.2%. Keywords: paleochannels, strata box seismic records, gold placer. Rekaman seismik strata box digunakan untuk menganalisa sungai purba bawah permukaan di Perairan Singkawang, Kalimantan Barat. Berdasarkan hasil analisis data strata box dapat diidentifikasi sebaran dan pola sungai purba. Sungai purba di bagian utara daerah penelitian ditafsirkan sebagai kelanjutan sungai sekarang, dan di selatan sungainya berpola memancar yang berasal dari pulau-pulau bermorfologi kerucut, seperti Pulau Kabung dan Lemukutan. Sungai purba daerah penelitian termasuk pada sistem sungai purba Paparan Sunda barat laut berakhir di Laut Cina Selatan. Suatu kajian sekuen stratigrafi dilaksanakan untuk lebih memahami sekuen-sekuen sedimen dalam sungai purba. Kajian ini juga mampu mengidentifikasi endapan-endapan plaser dalam alur tersebut. Berdasarkan kriteria pembentukan emas plaser atau letakan, seperti terdapatnya sumber emas primer, pelapukan kimia dan fisika yang sangat intensif untuk membebaskan butiran-butiran emas dari batuan induknya yaitu Batuan Terobosan Sintang. Transportasi gaya berat yang melibatkan media air, kondisi batuan dasar dan permukaan yang stabil, membuat daerah lepas pantai Singkawang memenuhi kriteria untuk akumulasi emas letakan. Proses pelapukan kimia dan fisika mulai dari Oligosen hingga Resen, sekitar 36 juta tahun memungkinkan dijumpainya akumulasi emas letakan di dasar laut. Berdasarkan hasil analisa besar butir daerah penelitian terdiri dari pasir 43,4%, lanau 54,3% dan lempung 2,3 %. Uji petrogafi menunjukan kandungan emas sekitar 0,2%. Kata kunci: sungai purba, rekaman seismik strata box, emas letakan.
  • THE CHARACTERISTIC OF COASTAL SUBSURFACE QUARTENARY SEDIMENT BASED ON GROUND PROBING RADAR (GPR) INTERPRETATION AND CORE DRILLING RESULT OF ANYER COAST, BANTEN PROVINCE

    The study of characteristic of subsurfase Quatenary sediment of Anyer coast have been done by using the data of Ground Probing Radar (GPR) image, Surfacial Geological map around the coast and the result of core drilling. The GPR equipment which was used are GSSI SIR 20 system and GSSI Sub Echo 40 MHz antennas. The GPR data image have been processed by using Radan GSSI software, Window NTIM version. The processing including Stacking, Spatial Filter, Migration and Decompolution. The interpretation of GPR image was done by using the principle of GPR stratigraphy through recoqnize to the internal and external reflector such as reflector configuration, continoutas, reflection, amplitude, etc, Furthermore the interpretation result of GPR image are correlated with the surfacial geological map and core drilling result that have been done by previous researscher. Besed on that correlation result, the characteristic of subsurface Quatenary deposits of study area can be divided into 5 unit mainly unit A, B, C, D and E. Unit A is the uppermost layer which is charactized by clay layer and coral reff fragments. Below the unit A they are unit B, C, and D wich were characterized by intercalation between sand and clay, sand deposit or sandstone, loose to dense. This condition is shown by the SPT (Standard Penetration Test) which have range between 10 to 50 blows per 15 Cm. Based on the characteristic of GPR image and sediment deposits of core drilling, these sediment deposits are interpreted as coastal and shallow water sediment deposits. Unit E is the lowermost layer which is interpreted as volcanic deposit. Keywords: subsurface quatenary sediment, ground propbing radar, core drilling, Anyer coast. Penelitian karakteristik sedimen bawah permukaan Kuarter di kawasan pantai Anyer telah dilakukan dengan mempergunakan data citra “ Ground Probing Radar”, geologi permukaan di sekitar kawasan pantai dan data hasil pemboran inti. Peralatan GPR yang dipergunakan adalah sistim SIR 20 GSSI dan antenna MLF 3200 GSSI.Data citra GPR telah diproses dengan mempergunakan perangkat lunak RADAN GSSI versi window NTIM. Pemrosesan terdiri dari “Stacking”, “Spatial Filter”, “Migration” dan “Decompolution”. Penafsiran Citra GPR dilakukan dengan mempergunakan prinsip Stratigrafi GPR melalui pengamatan terhadap internal dan eksternal reflector seperti konfigurasi reflector, kontinuitas, refleksi, amplitude dan lain-lain. Selanjutnya hasil penefsiran citra GPR ini dikorelasikan dengan peta geologi permukaan dan hasil pemboran inti yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Berdasarkan hasil korelasi tersebut karakteristik endapan Kuarter bawah permukaan daerah penelitian dapat dibagi menjadi 5 unit yaitu Unit A, B, C, D dan E. Unit A merupakan unit paling atas yang dicirikan lapisan lempung dan kerakal kerikil hasil rombakan koral. Unit B, C dan D berada di bawah ubit A yang merupakan endapan selang seling pasir dan lempung serta endapan pasir atau batu pasir bersifat urai sampai padat. Kondisi ini ditunjukan oleh hasil pengujian SPT(“Standard Penetration Test”) yang berkisar antara 10 sampai lebih dari 50 tumbukan per 15 Cm.Berdasarkan karakteristik fasies citra GPR dan endapan sedimen dari hasil pemboran inti, endapan sedimen tersebut ditafsirkan sebagai endapan pantai dan endapan laut dangkal Unit E merupakan lapisan paling bawah yang ditafsirkan sebagai endapan gunung api. Kata kunci: Sedimen Kuarter bawah permukaan,”Ground Probing Radar”, pemboran inti, pantai Anyer
  • Temporal and Spatial Distribution of Heavy Metal in Sediment of Urban Coastal Waters: A Case Study in Jakarta Bay, Indonesia

    Heavy metals, hazardous chemical substances, increase in marine environment due to anthropogenic discharges. However, due to the hydrodynamic of the marine system these metals could vary both temporal and spatial distribution of metals in Jakarta Bay. This study was to reveal the temporal and spatial distribution of metals in sediment over the bay and to assess the environmental condition. Sediment samples were collected in11 stations of March (transitional season) and June(dry season)2013. The result showed that the concentration of heavy metals varied spatially, in which elevated concentration occurred adjacent terrestrial indicating the enrichment of metal-anthropogenic source, but insignificant temporarily.Keywords: heavy metals, spatial distribution, temporal distribution, anthropogenic activities, Jakarta Bay. Logam berat merupakan bahan berbahaya yang tersebar di lingkungan laut karena pengaruh aktifitas antropogenik. Akan tetapi, logam berat ini dapat terdistribusi secara temporal ataupun spasial di Teluk Jakarta akibat sistem hidrodinamika laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi spasial dan temporal logam berat dalam sedimen dan untuk menilai kondisi lingkungan teluk. Sedimen diambil dari 11 stasiun pada bulan Maret (musim transisi) dan Juni (musim kering) tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi spasial logam berat bervariasi, dimana konsentrasinya meningkat di lokasi dekat daratan yang mengindikasikan tingginya sumber logam-antropogenik namun secara temporal tidak signifikan.Kata kunci: logam berat, distribusi spasial, distribusi temporal, kegiatan antropogenik, Teluk Jakarta.
  • FIELD CORRELATION BETWEEN PRECIPITATION-EL NINO RELATED VARIATION AND CORAL ?18O

    Coral ?18O from Maudulung-Indonesia was analyzed using Finnigan MAT 251. Using statistical analysis from KNMI database is obtained that the seasonal mean field correlation between coral ? 18OSOI shows strong correlation during October. Field correlation of precipitation-coral ? 18O shows opposite pattern between eastern Pacific and western Pacific during strong El Nino event. Keywords: coral ?18O, field correlation, El Niño, Maudulung Sumba. Kandungan ?18O dalam koral dari wilayah Maudulung, Sumba, dianalisis dengan menggunakan Finnigan MAT 251. Korelasi spasial antara ?18O dengan SOI dalam skala musiman tinggi selama bulan Oktober. Korelasi spasial ini dilakukan dengan menggunakan fasilitas analisa statistik dalam database KNMI. Korelasi spasial antara presipitasi- coral ?18O menunjukkan pola-pola yang berlawanan antara wilayah timur dan barat Pasifi selama El Niño. Kata kunci: Koral ?18O, korelasi spasial, El Niño, Maudulung Sumba.
  • THE INFLUENCE OF SEA-LEVEL CHANGES ON SEA-BOTTOM MORPHOLOGY OF SINGKAWANG WATERS WEST KALIMANTAN BASED ON ANALYSES OF BATHYMETRIC AND SEISMIC DATA

    In the history of Quaternary geology, global climate changes influenced worldwide sea-level variations. On this study, these phenomena are tried to be assessed through sea-bottom morphology changes using bathymetric and seismic strata box data obtained during field survey in Singkawang Waters, West Kalimantan. Sea-level changes in this area are referred to global variations that had been studied by many researchers. Maximal depth attained during bathymetry mapping was -52 meters which take place as a depression between Lemukutan and Penata Besar Islands. General depths are - 30 m; thus, morphology reconstruction was done for sea-level positions - 10 m, - 20 m, and - 30 m from mean sea level. At the study area, sea-level dropped more than -30 m was only occurred in sea bottom morphology of isolated depressions. These isolated depressions are assumed as paleo-lakes which occurred throughout Sunda Land by some authors. The study also shows that sea-level history in Singkawang’s area span from approximately 10,000 years ago or Holocene time to Recent. During low sea-levels, the sea-bottom morphology was characterized by more extension of Singkawang land, formations of narrow straits between islands and developments of paleo-lakes assumed as fresh water lakes in the past. These events, based on Voris’s Diagram, occurred about 10,200 up to 8,300 years ago. On the other hand, marine clays appeared on coastal area of Singkawang. These might be evidence of sea-level rise in this area. About + 5m sea-level rise flooded this area approximately 4,200 years ago. Influences of sea-level changes to subbottom geological conditions were also assessed. The assessment was carried out by analyzing shallow seismic reflection records by using strata box. The records demonstrated that subsurface geology were characterized by truncation reflector configurations interpreted as fluvial environments. Keywords : sea-level changes, sea-bottom morphology, bathymetry, strata box, Singkawang Waters, West Kalimantan. Dalam sejarah geologi Kuarter, perubahan iklim global mempengaruhi variasi permukaan laut di seluruh dunia. Pada kajian ini fenomena tersebut dicoba dipelajari melalui perubahan morfologi dasar laut menggunakan data batimetri dan seismik pantul dangkal yang diperoleh selama survei lapangan di Perairan Singkawang, Kalimantan Barat. Perubahan muka laut di daerah ini mengacu pada variasi global yang telah dikaji oleh beberapa peneliti. Kedalaman tertinggi yang diperoleh selama pemetaan batimetri adalah 52 meter, yaitu berupa suatu daerah depresi antara Pulau Lemukutan dan Penata Besar. Umumnya kedalaman adalah -30 m; sehingga, rekonstruksi morfologi dilakukan pada posisi muka laut - 10 m, - 20 m, dan -30 m dari muka laut rata-rata. Di daerah kajian, muka laut turun lebih dari - 30 m hanya terjadi dalam morfologi dasar laut yang berupa daerah-daerah depresi yang terisolasi. Morfologi depresi terisolasi ini diduga sebagai danau purba oleh beberapa penulis yang terdapat pada Daratan Sunda. Kajian ini juga menunjukkan bahwa sejarah muka laut di daerah Singkawang mulai dari sekitar 10.000 tahun lalu (Holosen) hingga saat ini (Resen). Selama turunnya muka laut, morfologi dasar laut dicirikan oleh semakin meluasnya daratan Singkawang, terbentuknya beberapa selat sempit dan berkembangnya danau-danau purba yang diduga sebagai danau air tawar di masa lalu. Peristiwa tersebut, berdasarkan diagram umur terhadap muka laut Voris, terjadi sekitar 10.200 hingga 8.300 tahun lalu. Sementara itu, keterdapatan lempung endapan laut dari data pemboran pantai di Singkawang merupakan bukti naiknya muka laut di daerah ini. Kenaikan muka laut sekitar + 5 m telah menggenangi daerah ini kira-kira 4.200 tahun lalu. Tulisan ini juga membahas tentang pengaruh perubahan muka laut terhadap kondisi geologi bawah dasar laut. Kajian dilaksanakan dengan menganalisa rekaman seismik pantul dangkal. Rekaman menunjukkan bahwa geologi bawah dasar laut dicirikan oleh konfigurasi reflektor ’toreh dan isi’ atau truncation yang ditafsirkan sebagai lingkungan fluvial. Kata kunci : perubahan muka laut, morfologi dasar laut, batimetri, strata box, Perairan Singkawang, Kalimantan Barat.
  • SUPPRESSING DIFFRACTION EFFECT USING KIRCHHOFF PRE-STACK TIME MIGRATION ON 2D SEISMIC MULTICHANNEL DATA AT FLORES SEA

    2D seismic multichannel survey has been carried out by Marine Geological Institute of Indonesia to interpret imaging and sub-surface geological information in the Flores Sea. Seismic data processing starts from pre-processing until migration stage. Migration is an important stage in the seismic processing, because at this stage the effects of diffraction and oblique reflectors caused by fault, salt domes, wedging, etc. will be repositioned to the actual points. One example of diffraction effects can be seen on the seismic section of a conventional stacking that have not migrated, i.e. resulting in an apparent bowtie reflector. Geologists find difficulties in interpreting geological information from diffracted seismic section, so it needs further processing to overcome the effects. By using Kirchhoff method and carried out during the Pre-Stack Time Migration (PSTM), this method turns out to produce migrated seismic section which is much better than conventional stacked one. This is due to the Kirchhoff method suppressed the identified diffraction effects, so that the geologist can interpret geological structure of the resulting migrated seismic section of the Flores Sea. Keywords : 2D seismic multichannel, diffraction, Pre-Stack Time Migration (PSTM), Kirchhoff method. A Survei seismik 2D multichannel dilaksanakan oleh Marine Geological Institute of Indonesia untuk mengetahui gambaran serta informasi geologi bawah permukaan Laut Flores. Pengolahan data seismik dimulai dari pre-processing sampai tahap migration. Tahap migration merupakan tahap terpenting dalam pengolahan data seismik, oleh karena pada tahap ini efek difraksi dan reflektor miring yang diakibatkan oleh sesar, kubah garam, pembajian, dan lain-lain akan dikembalikan pada keadaan sebenarnya. Salah satu contoh adanya efek difraksi bisa dilihat pada penampang stacking konvensional yaitu “bowtie” yang mengakibatkan terjadinya reflektor semu pada penampang seismik. Efek difraksi “bowtie” sangat menyulitkan para peneliti dalam memperoleh informasi geologi, sehingga perlu adanya proses lebih lanjut untuk mengatasi efek tersebut. Salah satu metode migrasi yang berkembang saat ini yaitu metode Kirchhoff dan dilakukan pada saat Pre-Stack Time Migration (PSTM), menunjukkan hasil penampang jauh lebih baik daripada penampang stacking konvensional. Hal ini terjadi karena pada metode Kirchhoff Pre-Stack Time Migration, efek difraksi tersebut ditekan lebih awal sehingga penampang yang dihasilkan mampu menggambarkan struktur geologi permukaan Laut Flores Sea. Kata kunci : seismik 2D multikanal, difraksi, Pre-Stack Time Migration (PSTM), metode Kirchhoff.
  • Elemental Analysis on Marine Sediments Related to Depositional Environment of Bangka Strait

    Study of elemental composition in sediment has been proven useful in interpreting the depositional environmental changes. Multi Sensor Core Logger (MSCL) is a non-destructive analysis that measures several parameters in sediment core including magnetic susceptibility and elemental composition. Magnetic susceptibility and elemental analysis were measured in four selected marine sediment cores from western part of Bangka Strait (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) by using magnetic susceptibility and X-ray Fluorescence (XRF) sensors attached to the MSCL. The data was collected within 2 cm interval. Scatter plots of Y/Zr and Zr/Ti show singular trend demonstrated by sediments from MBB-173 and two groups that composed of MBB-67 (Group 1) and MBB-119 + MBB-120 (Group 2). MBB-67 that is located adjacent to Klabat Granite shows upward changes in mineralogy, slight increase of grain size and negligible change in Y concentration. Cores MBB-119 and MBB-120 are inferred to be deposited during regression that resulted in the accummulation of Y-bearing zircon in MBB-119 before the mineral could reach MBB-120. Core MBB-173 is interpreted to be the product of plagioclase weathering that is submerged by rising sea level. This core contains a horizon of rich Y-bearing zircon at 60 cm.Keywords: Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, magnetic susceptibility, depositional environment, Bangka Island Studi tentang komposisi unsur kimia dalam sedimen telah terbukti bermanfaat dalam interpretasi perubahan lingkungan pengendapan. Multi Sensor Core Logger (MSCL) adalah sebuah analisis yang non-destructive, untuk mengukur beberapa parameter dalam bor sedimen termasuk suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur. Suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur diukur dari 4 bor sedimen laut yang terpilih di bagian barat Selat Bangka (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) dengan menggunakan sensor suseptibilitas magnetik (MS) dan X-ray Fluorescence (XRF) yang terpasang pada MSCL. Pengukuran dilaksanakan dengan interval 2 cm. Plot Y/Zr dan Zr/Ti menunjukkan satu trend yang diperlihatkan oleh sedimen bor MBB-173 dan dua grup yang terdiri atas MBB-67 (Grup 1) dan MBB-119 + MBB-120 (Grup 2). Bor MBB-173 ditafsirkan sebagai hasil pelapukan plagioklas yang kemudian terendam air laut. Bor ini memperlihatkan horizon yang kaya akan zirkon pembawa yttrium pada kedalaman 60 cm.Kata kunci : Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, suseptibilitas magnetik, lingkungan pengendapan, Pulau Bangka
  • Минералого-геохимические исследования костного детрита плейстоценовых млекопитающих, включающего древнейший в Северной Евразии сапиенс

    В целях презентации междисциплинарного научного проекта рассмотрены объекты и методы минералого-геохимических исследований костного детрита плейстоценовых млекопитающих, включающего усть-ишимскую кость древнейшего в Северной Евразии сапиенса. Показано, что в результате последовательного использования оптической, сканирующей электронной и атомно-силовой зондовой микроскопии удается выявить особенности внутреннего строения костей и признаки их прижизненных деформаций. Биоминеральный компонент в них по данным рентгенофлюоресцентного, рентгендифракционного и ИК-спектроскопического методов представлен в различной степени окристаллизованным карбонатапатитом В-типа. Методом ИСП-МС в костях обнаружено 50 эссенциальных и ксенобиотных микроэлементов. Концентрация последних в ископаемых костях превышает кларки для живых наземных животных в тысячи, десятки, иногда сотни тысяч раз, прямо коррелируя со степенью фоссилизации. Определены элементный, аминокислотный и химический групповой состав органического матрикса костей. Установлено, что основным результатом химической деградации коллагена является сокращение роли карбонильных и алифатических групп, что отражает деполимеризацию первичного органического вещества с образованием конденсированных структур. Присутствие последних в наиболее измененных костях диагностировано методом рамановской спектроскопии. Показано, что на основе данных изотопно-геохимических исследований может быть осуществлена реконструкция палеодиет и экологических условий обитания животных.
InterServer Web Hosting and VPS
InterServer Web Hosting and VPS